Entertainment

Alunan Musik Warnai Suasana Kampung Ramadhan Rindam

Di tengah riuhnya keramaian dan aroma makanan yang menggugah selera, ada satu hal tak kasat mata yang mempengaruhi suasana Kampung Ramadhan Rindam, yaitu musik. 

11 Maret 20262 min baca
Alunan Musik Warnai Suasana Kampung Ramadhan Rindam

CROWDNSURF, Magelang - Di tengah riuhnya keramaian dan aroma makanan yang menggugah selera, ada satu hal tak kasat mata yang mempengaruhi suasana Kampung Ramadhan Rindam, yaitu musik. 


Bagi sebagian pedagang, memutar musik bukan hanya untuk menghilangkan rasa sepi, melainkan sebagai salah satu cara untuk mencairkan suasana. David Hardiyanto, seorang pedagang yang telah membuka lapaknya mulai dari hari pertama Ramadhan, menjadi salah satu yang merasakan dampak dari musik tersebut. 


Di tengah kesibukannya melayani pembeli, ia mengaku sesekali memutar playlist andalannya dari Kebi. Menurut David, musik sangat berpengaruh terhadap ritme kerjanya. 


“Pengaruh banget sih kak, soalnya bisa bikin enjoy gitu kan, biar nggak terlalu kaku gitu kalau ngejualin,” ujarnya.


Menariknya, gelombang musik ini tidak hanya berpengaruh bagi dirinya saja, tetapi juga merambat kepada pembeli yang sedang mengantri. David mengungkapkan, terkadang para pelanggannya ikut bernyanyi terbawa suasana, membuat waktu saat menunggu takjil yang membosankan menjadi momen yang asik.


Lantas, bagaimana dari sudut pandang pengunjung? Kami menemukan dinamika selera yang saling bertolak belakang, tetapi melengkapi nuansa sore itu. 


Kiki, seorang pengunjung yang berasal dari luar Kota Magelang menyambut positif gelombang musik tersebut. Ia menyadari betul alunan musik yang diputar di sekitar Kampung Ramadhan Rindam. Bagi dirinya, musik memberikan suasana tersendiri pada sore hari. 


“Musik-musik yang disetel ini vibes-nya sesuai sama sekarang, keadaan sekarang gitu lagi Ramadhan, terus kita lagi cari takjil juga kan,” ungkapnya. 


Menurut Kiki, musik sukses membuat suasana berburu takjil jauh lebih hidup dan membuat suasana lebih membahagiakan. Jika berbicara soal lagu yang mewakili Ramadhan, Kiki merasa lagu-lagu bernuansa sholawat adalah yang paling identik.

Di sudut pandang yang berbeda, Bagus, pemuda asli Magelang yang datang bersama Kiki, mengungkapkan sudut pandang yang lebih condong pada keaslian suasana. Meskipun ia menyadari adanya alunan musik, Bagus merasa hal tersebut tersebut tidak memberikan pengaruh yang spesial bagi pengalamannya membeli takjil. 


“Kalau menurutku ya udah aja sih, maksudnya kayak lebih... lebih kerasa sama ambience-nya aja. Kalau nggak pakai musik malah lebih oke menurutku,” tutur Bagus secara blak blakan.


Meski begitu, Bagus mengungkapkan bahwa lagu karya Ismail Marzuki, yang berjudul “Selamat Hari Lebaran” menjadi hal yang melekat dalam benaknya ketika di bulan Ramadhan.


Pada akhirnya, perbedaan ini membuktikan bahwa musik selalu menemukan jalannya sendiri untuk berinteraksi dengan pendengarnya. Ada yang semangatnya terangkat, ada juga yang memilih kebisingan yang natural.