Yogyakarta selalu punya cara sendiri untuk merawat ingatan. Di sudut-sudut gang sempit Prawirotaman hingga pinggiran Ring Road, aroma kopi saset bercampur puntung rokok kretek mengepul di teras rumah warga yang beralih fungsi menjadi ruang alternatif. Ketika harga sewa tanah melambung dan komersialisasi merangsek masuk ke ruang-ruang publik, kolektif akar rumput memilih untuk melawan dengan cara paling purba: membangun panggung sendiri, mencetak rilisan fisik menggunakan mesin cetak sablon manual, dan menjaga etos do-it-yourself tetap hidup.
Gulma, sebagai salah satu titik kumpul kolektif di Yogyakarta, merepresentasikan resistensi kultural kelas pekerja muda yang jenuh dengan kemapanan industri. Di tempat-tempat seperti ini, gig bukan sekadar ajang menghabiskan akhir pekan dengan moshing di depan amplifier usang. Ia adalah ruang aman bagi mereka yang terasing di ruang-ruang urban metropolitan, tempat bertukar rilisan cassette tape, dan merajut solidaritas lintas subkultur dari hardcore punk hingga eksperimental noise.
Ekonomi politik di skena independen hari ini dihadapkan pada dilema pelik antara bertahan hidup atau menjual idealisme ke algoritma streaming. Namun, kolektif-kolektif di Jogja konsisten menolak tunduk pada kurasi digital korporat. Mereka merawat ekosistem melalui jaringan distribusi independen, merch eksklusif hasil kolaborasi seniman lokal, serta gig intim yang tiketnya dijual langsung di venue tanpa birokrasi calo digital.
Bagaimana sebuah skena bisa terus bernapas ketika ruang fisik kian menyempit dan digusur oleh kapitalisme properti? Jawabannya terletak pada ketekunan kolektif untuk terus menyalakan sound system, meski hanya berbekal mixer tua dan kabel jack yang berdengung.