News

Hidupkan Kembali Ekosistem Musik Lokal, Magelang Record Store Day (RSD) 2026 Buktikan Rilisan Fisik Musik Masih Tinggi Peminat

Magelang Record Store Day (MRSD) 2026 sukses menjadi ajang yang mempertemukan kolektor, pelaku industri kreatif, dan penikmat musik melalui record market, diskusi, serta pertunjukan seni, sekaligus membuktikan bahwa minat terhadap rilisan fisik dan ekosistem musik lokal Magelang terus tumbuh di tengah era digital.

4 Juni 20263 min baca
Hidupkan Kembali Ekosistem Musik Lokal, Magelang Record Store Day (RSD) 2026 Buktikan Rilisan Fisik Musik Masih Tinggi Peminat

MAGELANG, CrowdnSurfEvent Magelang Record Store Day (MRSD) 2026 kembali buktikan rilisan fisik musik yang terlihat kuno ternyata masih banyak peminatnya. Kolaborasi apik antara KelasPekan dan MRSD sukses mengubah Loka Budaya, Magelang, menjadi titik kumpul masif bagi para kolektor, pelaku industri kreatif, dan banyak penikmat musik pada Sabtu (16/5/2025). Sejak acara dimulai pukul 13.00 WIB, kaset pita, piringan hitam (vinyl), hingga CD kembali diburu dan diperjualbelikan dengan antusiasme tinggi.


Berbeda dari sekadar bazar musik biasa, MRSD 2026 membawa berbagai aktivitas yang menarik atensi para penikmat musik dan orang awam. Salah satu panitia MRSD 2026, Azarya, mengungkapkan bahwa keterbukaan menjadi kunci acara pada tahun ini.


“Di sini banyak aktivasi, mulai dari sketch photo booth, kerajinan tangan, live sablon, sampai record market yang menjual rilisan fisik dan merchandise,” ujarnya ketika ditanya di Loka Budaya, Sabtu (16/5/2025).


Ia juga mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan KelasPekan dan hadirnya komunitas Stand Up Indo Magelang ini menciptakan atmosfer baru dibandingkan dengan event-event serupa di tahun sebelumnya.


MRSD 2026 menyajikan “Rekam Memori” yang dikemas apik oleh KelasPekan, hadir sebagai pengalaman baru sekaligus kenangan event Gigs dan festival musik beberapa tahun belakangan di Magelang. Menariknya, event ini turut dihadiri oleh 20 record store di wilayah Jateng-DIY yang juga ikut meramaikan dan memeriahkan MSRD 2026.


Tidak hanya menjadi ruang transaksi dan hiburan musik, MRSD 2026 juga membuka ruang diskusi melalui Sunset Talk bertajuk “Ekosistem Festival Musik di Magelang”. Diskusi ini menghadirkan narasumber berpengalaman yakni Om Combo dan Hisyam Muhammad. 


Kedua narasumber tersebut hadir untuk berbagi pandangan seputar perkembangan dan tantangan ekosistem musik lokal saat ini. Pembahasan ini selaras dengan fenomena yang diamati dan dirasakan langsung oleh salah satu pelaku record market, yaitu Cahyo dari Lapakdahulu, Yogyakarta. 


“Semakin banyak orang tahu lewat sosial media bahwa rilisan fisik itu lebih diminati karena sifatnya long-lasting dan ada liriknya di dalam,” ungkap Cahyo. 


Menurut Cahyo, peminat rilisan fisik justru mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir di tengah gempuran digitalisasi. Pergeseran demografi penikmat rilisan fisik tersebut mulai meningkat ketika pasca pandemi Covid-19.


“Banyak anak muda yang tidak mengalami zaman rilisan fisik sekarang malah mencarinya. Band-band lokal magelang pun sekarang juga merilis format fisik,” tambahnya.


Secara keseluruhan, MRSD 2026 sukses memanjakan telinga pengunjung dengan kurasi lineup yang padat. Penampilan gigs corner datang silih berganti, mulai dari Zannetive, Postum Partum, Zephter, Untitled Joy, Syrian, hingga Tossing Seed.


Sementara itu, spinning session juga hadir melalui set spesial dari Yayak “Prontaxan”, Hanes Lepas Kendali, DJ Flamestrigga, dan Brurzum. Hiburan alternatif berupa stand up comedy juga hadir dengan menggandeng komunitas Stand Up Indo Magelang.


Melalui event tahunan ini, MRSD 2026 bukan hanya menjadi ruang nostalgia bagi penikmat rilisan fisik, tetapi juga menjadi bukti bahwa ekosistem musik lokal di Magelang masih terus tumbuh dan belum kehilangan daya tariknya di tengah arus digitalisasi.


Bagikan:
X

Artikel Terkait