Hari Minggu sore, persis dua pekan lalu, saya duduk termenung di ruang tamu sambil memandangi layar laptop yang menampilkan video penampilan Stars and Rabbit di sebuah festival musik terbuka. Pikiran saya melayang jauh ke belakang, tepatnya sekitar tahun 2011 atau 2012, ketika pertama kali saya menonton band asal Yogyakarta ini manggung di sebuah acara independen berukuran mungil di bilangan Tebet. Kala itu, penontonnya tak sampai 50 orang. Ruangannya sesak, beraroma kopi sachet dan rokok kretek, tapi energinya luar biasa jujur.

Bagi yang mengikuti perjalanan mereka sejak era awal EP Constellation rilis pada 2015, transformasi Stars and Rabbit tentu jadi bahan obrolan yang menarik di meja kopi. Duet maut antara Elda Suryani dengan vokal magisnya dan Adi Widodo di departemen gitar akustik—yang kemudian kini sering dibantu additional player—dulu identik dengan atmosfer intim. Dulu, penonton cukup duduk bersila di atas karpet vinyl pameran seni sambil menikmati petikan gitar fingerpicking yang renyah dan desah vokal Elda yang meliuk-liuk tanpa perlu amplifier raksasa.

Lalu waktu berjalan. Saya sempat berpikir, "Wah, kalau lagu-lagu folk minimalis seperti The House atau Worth It dibawa ke panggung festival besar dengan sound system 20 ribu watt, bakal kedengaran seperti apa ya?" Hehe. Ternyata ketakutan saya tak terbukti. Stars and Rabbit justru membuktikan bahwa perpindahan dari kafe-kafe remang ke panggung festival berskala masif tak lantas mengikis karakter sonik mereka. Mereka malah memperluas palet suara lewat album-album berikutnya seperti Constellation versi fisik hingga album On Different Days yang dirilis pada 2019.

Mari kita intip bagaimana aransemen lagu mereka bergeser. Di panggung intim, nomor-nomor seperti Man Upon the Hill bertumpu sepenuhnya pada dinamika akustik yang rapuh namun bertenaga. Di panggung festival besar dengan ribuan penonton yang berdiri di area moshpit terbuka, lagu yang sama dibawakan dengan tambahan lapisan instrumen yang lebih tebal. Adi Widodo kerap mengeksplorasi efek reverb dan delay yang lebih megah pada gitarnya, menciptakan ruang suara yang mengisi setiap sudut lapangan terbuka tanpa kehilangan esensi melankolisnya.

Saya ingat betul obrolan singkat saya dengan Elda di belakang panggung sebuah festival di Bandung beberapa tahun lalu. Sambil menenteng segelas teh hangat, dia sempat bilang, "Kita sih ngalir saja Mas, mau penontonnya sepuluh orang atau sepuluh ribu orang, energinya harus tetap sama." Kalimat itu terdengar klise kalau diucapkan motivator, tapi keluar dari mulut Elda dengan nada bicara khasnya yang santai, rasanya memang jujur apa adanya. Mereka tak pernah mencoba menjadi band stadion yang memprovokasi koor massal dengan teriakan "Mana suaranya Jakarta!". Elda tetaplah seorang penyanyi yang menari pelan di atas panggung, menghanyutkan penonton lewat gestur tubuh dan improvisasi vokal scat singing yang khas.

Eksplorasi bunyi ini tentu menarik dicermati. Ketika banyak band indie memilih jalur bising dengan menambah distorsi gitar dan menaikkan tempo ketukan drum demi memancing crowd surfing di festival, Stars and Rabbit justru memilih jalur sebaliknya. Mereka memperbesar ruang sunyi di dalam lagu-lagu mereka, membiarkan keheningan sejenak di tengah riuh rendah penonton festival menjadi sebuah kemewahan tersendiri.

Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang soal teori estetika panggung. Yang jelas, konsistensi mereka merawat repertoar lagu dari panggung kecil hingga festival besar patut diacungi jempol. Semoga di rilisan berikutnya mereka tetap konsisten aneh dan menawan seperti biasanya. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Stars and Rabbit Official Discography & History

  2. Profil Band Stars and Rabbit di kancah musik independen