Kemarin sore, saya duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan di bilangan Condongcatur, Yogyakarta, sambil menatap layar laptop yang menampilkan daftar rilisan lokal. Kepala saya pusing memikirkan tenggat waktu tulisan yang menumpuk. Lalu, earphone saya menyetel nomor "Lambda (Λ)" dari album Commit Death milik Enola yang rilis tahun 2024. Seketika, dentuman feedback gitar dan ketukan beat yang rapat menghempas lamunan sore saya. Hehe, lumayan bikin jantung berdegup lebih kencang daripada kopi sasetan yang saya pesan.

Bicara soal Enola, band asal Bandung ini memang punya cara sendiri untuk membuat pendengarnya tenggelam dalam lapisan reverb dan distorsi yang tebal. Jauh sebelum album Commit Death menggedor telinga kita pada 2024—dengan nomor-nomor gelap seperti "Infernal" serta kolaborasi bersama denisa dalam "Repent"—mereka lebih dulu merilis Does Anyone Else pada rentang 2020 hingga 2021. Di album pertama itu, track macam "Fill the Void" dan "Does Anyone Else" menjadi teman setia saya saat harus begadang menyelesaikan laporan kerjaan kantor yang tak kunjung beres.

Saya ingat betul, pertama kali mendengarkan "Blue Waves" yang menampilkan Angeeta Sentana, atau track "Śūnyatā" dari album yang sama, rasanya seperti berjalan sendirian di koridor panjang yang basah. Ada rasa sunyi yang pekat, tapi di saat bersamaan ada gemuruh instrumen yang menolak untuk diam. Begitu juga ketika saya memutar "Inner Ruins" dari rilisan Inner Ruins di tahun 2021. Aransemen mereka konsisten membangun atmosfer yang kelam, mengingatkan saya pada era kejayaan band-band shoegaze dekade silam yang kerap mampir di pemutar CD kamar kos saya waktu kuliah.

Kondisi skena independen kita hari ini memang tak pernah benar-benar stabil. Di Yogyakarta, ruang-ruang alternatif datang dan pergi silih berganti. Kolektif-kolektif muda sering kali harus berdarah-darah sekadar untuk mengurus izin gigs atau mengumpulkan dana cetak merchandise. Boro-boro mengharapkan sponsor besar, bisa menutup biaya sewa venue dan sound system standar saja sudah menjadi sebuah pencapaian besar. Tapi di situlah letak daya tariknya. Semangat kolektif ini mirip dengan cara Enola meracik bebunyian mereka; mandiri, tanpa banyak kompromi dengan selera pasar arus utama.

Saya sering mengobrol dengan anak-anak muda pengurus kolektif gig lokal yang bilang bahwa bertahan di skena sekarang butuh energi ekstra. "Gua kadang capek, Mas, tapi kalau nggak bikin acara, rasanya ada yang kurang," begitu keluh seorang kawan pengurus kolektif di bilangan Pogung beberapa waktu lalu. Dan saya hanya bisa mengangguk, sambil membayangkan betapa lelahnya para personel Enola merangkai lapis-lapis delay dan distortion pedal mereka di atas panggung yang sempit.

Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang sambil merenungi nasib skena yang jalannya begini-begini saja tapi tetap hidup. Kalau kalian belum sempat mendengarkan karya-karya mereka, coba luangkan waktu sebentar untuk memutar album Commit Death atau Does Anyone Else. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal lain yang tak kalah seru untuk dibahas di meja kopi ini. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Enola - Blue Waves (feat. Angeeta Sentana) (Does Anyone Else)

  2. Enola - Fill the Void (Does Anyone Else)

  3. Enola - Does Anyone Else (Does Anyone Else)

  4. Enola - Commit Death on Bandcamp

  5. Enola - Does Anyone Else on Bandcamp