Sore itu, aroma kopi hitam tubruk bercampur dengan bau pengap dari deretan amplifier tabung di sudut ruangan. Di sanalah saya duduk bersama para personel Rekah dan Stephania Shakila. Tidak ada obrolan formal yang kaku. Yang ada hanyalah tawa kecil saat membahas betapa kacaunya jadwal latihan minggu ini, tumpukan pedalboard yang berantakan, serta kabel gitar yang hobi melingkar sendiri bagaikan ular kehausan.
Bagi mereka yang mengikuti perjalanan panjang skena independen tanah air, nama Rekah tentu bukan lagi asing di telinga. Sejak merilis "Rekah" pada album Kisahku di tahun 2019, mereka konsisten menawarkan lanskap audio yang menolak tunduk pada selera pasar arus utama. Konsistensi itu terus berlanjut melalui lembaran-lembaran karya berikutnya, termasuk rilisan EP Rona Merah Pipi Tak Selalu Berarti Tersipu yang dilepas pada 2024 lalu.
Ada sebuah titik balik yang menarik ketika kita membicarakan dinamika kreatif mereka di studio. Proses penulisan lagu sering kali bermula dari keresahan personal yang paling privat—mulai dari ruang kamar kos yang sempit, deru bising kendaraan malam hari, hingga kelelahan mental menghadapi rutinitas harian. Semua itu diterjemahkan ke dalam eksplorasi chord progression yang kelam, ketukan beat drum yang rapat, serta lapis demi lapis distorsi gitar yang memeluk telinga dengan hangat.
Kolektivitas ini menemukan dimensi baru ketika mereka berkolaborasi dalam nomor-nomor seperti "Melukis Memar Di Langit Ibu" (2024) dan "Kabar Dari Dasar Botol" (2024). Ada kejujuran vokal yang dieksekusi tanpa rekayasa berlebihan. Tidak ada auto-tune atau polesan digital yang menutupi napas tersengal di balik mikrofon. Yang terdengar adalah emosi mentah yang disampaikan lewat dinamika volume dari pelan hingga meledak-ledak di bagian chorus.
Jauh sebelum itu, mereka juga sempat merekam jejak lewat single "KERETA TERAKHIR DARI PALMERAH" pada 2022. Lagu tersebut merekam betul bagaimana atmosfer komuter Jakarta divisualisasikan kedalam aransemen post-rock yang megah sekaligus melankolis. Setiap sound yang keluar dari amplifier seolah membawa pendengar masuk ke dalam gerbong kereta penuh sesak, berdiri sambil berpegangan pada pegangan tangan besi yang dingin.
Kini, menyongsong rilisan terbaru mereka "Together We Rise" yang dijadwalkan rilis tahun 2026, energi itu tidak sedikit pun kendur. Di tengah gempuran industri yang menuntut produktivitas instan, Rekah dan Stephania Shakila memilih jalur lambat yang penuh perenungan. Mereka sibuk mengatur ulang gain di pedalboard, memastikan setiap frekuensi low-end pada bassline terdengar tebal, dan meracik sound yang jujur.
Bagi mereka, bermusik bukanlah sekadar mencari panggung megah atau sorot lampu festival. Ini tentang bagaimana menjaga kewarasan tetap utuh, merawat solidaritas antar-personel di dalam studio yang ber-AC mati, dan terus bernyanyi lantang menolak padam di tengah kelelahan kolektif zaman sekarang.
Referensi & Sumber
- Rekah & Stephania Shakila - Melukis Memar Di Langit Ibu (Melukis Memar Di Langit Ibu - Single)
- Rekah & Stephania Shakila - Kabar Dari Dasar Botol (Setengah Mati - Single)
- Rekah & Stephania Shakila - KERETA TERAKHIR DARI PALMERAH (KERETA TERAKHIR DARI PALMERAH - Single)
- Diskografi Resmi Rekah & Stephania Shakila

