Malam itu di sebuah studio musik sempit kawasan Lowokwaru, Malang, dengung feedback amplifier gitar masih berdengung di telinga saya. Di pelataran luar yang diguyur gerimis tipis, bau asap rokok kretek berbaur dengan aroma khas toner mesin fotokopi yang masih hangat dari tumpukan kertas A5 di atas meja plastik.
Di sudut meja itulah Dimas duduk melantai. Tangannya yang belepotan tinta hitam sibuk menekan stapler tembak ke lipatan tengah kertas HVS 70 gram. Malam itu, ia baru saja menyelesaikan cetakan 50 eksemplar fanzine independen yang ia kerjakan selama dua bulan penuh.
Potong, Tempel, dan Mesin Ketik Tua
Bagi Dimas, mendokumentasikan skena musik Malang bukan perkara bikin konten video vertikal 15 detik yang cepat basi. Proses pembuatan zine miliknya adalah antitesis dari segala hal yang serba instan di era digital.
Foto-foto panggung dicetak dari kamera saku analog, digunting manual pakai gunting dapur, lalu ditempel di atas kertas karton bekas kalender. Naskah wawancaranya diketik memakai mesin ketik tua peninggalan kakeknya, lengkap dengan huruf yang kadang miring dan bekas tipe-x yang sengaja dibiarkan terlihat.
"Kertas fotokopi itu punya nyawa dan aroma fisik. Saat kamu pegang zine yang tintanya luntur di jemari, kamu tahu ada orang yang begadang semalaman buat nyatet sejarah band temannya sendiri." - Dimas
Distribusi Tangan ke Tangan di Depan Moshpit
Zine buatan Dimas tidak dijual lewat marketplace atau akun jualan daring. Kalau kamu mau baca, kamu harus datang langsung ke gigs lokal, beli di lapak merchandise samping pintu masuk, atau barter dengan kaset pita rilisan lokal lainnya.
Cara ini sengaja dipilih untuk memaksa orang saling menyapa dan mengobrol tanpa perantara layar kaca. Dari transaksi receh lima ribu perak di lapak zine itulah, jaringan pertemanan baru antar-musisi dan penikmat musik di Malang terus terjalin akrab.
Menjaga Ingatan Musik Tetap Bernyawa
Ketika platform media sosial bisa menghapus akun atau mengubah algoritma kapan saja, arsip fisik di atas kertas fotokopi justru bertahan puluhan tahun di rak kamar kos anak-anak skena.
Apa yang dilakukan Dimas adalah pengingat berharga buat kita semua: musik independen tidak hanya dirawat di atas panggung, tapi juga di sela-sela lipatan kertas sederhana yang dikerjakan dengan cinta dan ketulusan murni.
