Hari Selasa sore, persis di meja kerja sudut kamar saya yang mulai berantakan oleh tumpukan rilisan fisik kaset pita dan kertas catatan tak penting, sebuah pertanyaan melintas begitu saja di kepala. Tahun ini sudah 2026, euy. Perunggu, band rock asal Jakarta yang diisi oleh Maulana Ibrahim, Ildo Ramadana, dan Adam Adenan, melejit lewat album penuh debut mereka, Memorandum, pada akhir tahun 2021 silam. Kalau ditarik garis lurus sampai hari ini, berarti sudah sekitar lima tahun band yang kerap dicap sebagai "suara para pekerja kantoran" itu menemani hari-hari lelah kita menerobos macet ibu kota.

Saya ingat betul masa-masa awal album Memorandum beredar. Saat itu, lagu-lagu seperti "Pertempuran Ekstensi" atau "3 Menit 30 Detik" mendadak jadi anthem wajib di banyak mobil commuter yang terjebak di jalan tol Dalam Kota. Lirik-lirik yang jujur tentang penatnya jam kerja, cicilan KPR, tekanan atasan, hingga keresahan kelas pekerja menengah ke bawah, langsung menohok ulu hati siapa pun yang membacanya. Rasanya pas sekali dengan kondisi mental saya waktu itu yang mulai sering mengeluh sakit pinggang habis duduk terlalu lama di depan layar laptop. Hehe.

Tapi, waktu terus berjalan. Industri musik bergerak begitu cepat tanpa sempat melambaikan tangan. Muncul band-band baru dengan eksplorasi synthesizer yang lebih futuristik, lirik puitis tentang kecemasan eksistensial anak muda Gen Z, atau pop disko yang ramah algoritma TikTok. Di tengah lanskap yang berubah drastis ini, saya lantas bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah lagu-lagu anthemic ala Perunggu dengan distorsi gitar garang dan teriakan paduan suara maskulin itu masih relevan untuk didengarkan oleh kita-kita yang sekarang sudah masuk kategori "generasi jompo"?

Boro-boro mau ikut moshing di barisan depan moshpit sebuah gig rock independen, berdiri dua jam nonton konser saja sekarang sudah bikin dengkul bergetar hebat. Tapi, ketika kemarin saya sengaja memutar ulang track "Biar Biar" menggunakan headphone kesayangan, eh, ternyata energinya masih sama persis. Adam dengan bassline-nya yang rapat, ketukan drum Ildo yang disiplin menjaga tempo, serta vokal tegas tapi membumi dari Ibnu—panggilan akrab Maulana Ibrahim—masih sanggup memantik memori tentang bagaimana rasanya bertahan hidup di kubikel kantor lima hari seminggu.

Mungkin, rahasia keawetan karya Perunggu terletak pada kejujuran mereka dalam merekam realitas tanpa pretensi seni yang muluk-muluk. Mereka tidak mencoba jadi filsuf jalanan yang sok tahu, atau aktivis panggung yang meneriakkan revolusi semu. Mereka cuma sekumpulan pria dewasa yang kebetulan piawai meramu riff gitar berenergi arena rock era 90-an, lalu memadukannya dengan curhatan jujur di pantry kantor saat jam istirahat siang. Dan itu, jujur saja, adalah formula yang tak lekang oleh zaman, betapapun tua umur pinggang kita sekarang.

Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang sambil membayangkan tumpukan surel pekerjaan yang belum dibalas dari minggu lalu. Semoga di tahun 2026 ini Perunggu segera merilis materi baru supaya kita punya alasan lagi untuk melompat kecil di tengah konser sambil menahan nyeri otot. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Perunggu - Memorandum Album Review dan Perjalanan Karier