Bau rokok kretek bercampur aroma basah sisa hujan malam sebelumnya langsung menyergap hidung begitu saya melangkah masuk ke ruang studio yang sempit. Di sudut ruangan, tumpukan kabel gitar melingkar kusut, bersanding dengan sebuah amplifier tua yang grillcloth-nya sudah robek di sana-sini. Tidak ada pendingin ruangan yang berfungsi optimal; yang ada hanya deru kipas angin plastik berisik yang berputar malas, seakan ikut lelah menemani obrolan panjang malam itu.
Di sinilah Dongker menempa identitas bunyi mereka. Jauh dari kemilau lampu panggung festival atau kenyamanan ruang mixing berstandar hi-fi, kuartet ini memilih merawat keresahan lewat raungan distorsi dan chord progression yang mendesak. Bagi mereka, sebuah single seperti "Bertaruh Pada Api" yang dirilis pada 2022 bukanlah sekadar materi rekaman yang dilepas begitu saja ke platform digital. Itu adalah pertaruhan hidup, manifestasi dari rasa frustrasi harian yang diterjemahkan langsung ke dalam entakan beat drum rapat dan tebalnya gain.
Menjaga Kewarasan Lewat Ceriwis Necis
Perjalanan kreatif Dongker selalu menarik untuk dibedah bukan karena kalkulasi industri yang rumit, melainkan karena kejujuran mentah yang mereka simpan di setiap track. Ingatan saya langsung meluncur pada rilisan EP Ceriwis Necis tahun 2023, di mana nomor "Sepenggal Sadar" merekam bagaimana mereka memotret kebingungan kolektif generasi seumuran mereka. Tidak ada lirik puitis yang bersembunyi di balik metafora rumit. Yang ada hanyalah teriakan jujur, vokal yang melengking di atas raungan fuzz, dan energi mentah yang langsung memantik singalong massal di setiap gigs kecil.
"Kami tidak pernah duduk manis di depan meja rapat untuk merumuskan harus jadi band seperti apa," ujar salah seorang personel sambil menyalakan pemantik api. Tawa kecil lepas di antara kepulan asap tipis, mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara. Bagi mereka, relasi antar-personel adalah lem perekat utama. Ruang latihan bukan cuma tempat merapikan tempo atau menyamakan tuning gitar sebelum soundcheck, tapi juga tempat membuang penat dari himpitan hidup kota besar.
Menatap Horison Baru Menuju Melankolia Radikal
Kini, atensi skena mulai bergeser ke arah horison tahun 2026, di mana album penuh bertajuk Melankolia Radikal dipersiapkan sebagai babak baru perjalanan mereka. Judulnya sendiri sudah mengundang tanya—sebuah kontradiksi antara rasa amarah dan kerapuhan. Melalui album ini, Dongker merangkai sejumlah tajuk yang siap meledak di lantai moshpit, mulai dari "Lautan Bunga Warna Terang", "Lagu Selepas Hujan", hingga "Metafora Berpelukan".
Ada pula nomor-nomor seperti "Kisah Sedih Kontemporer (Air & Api)", "Kukubur Trauma", dan "Takbir Terdengar Kejam" yang mengindikasikan bahwa eksplorasi musikal mereka tidak berjalan di tempat. Mereka tidak takut untuk membiarkan feedback gitar menjerit lebih lama, atau membiarkan bassline berjalan monoton demi membangun atmosfer yang lebih gelap dan sinematik. Setiap track di album mendatang ini dirancang bukan untuk menyenangkan semua telinga, melainkan untuk mencari mereka yang suaranya sering terabaikan di pinggir jalan raya.
Ketika malam semakin larut dan puntung rokok di asbak kian menumpuk, tidak ada resolusi muluk-muluk yang diucapkan para personel Dongker. Mereka hanya ingin terus merawat keriuhan ini, membawa instrumen mereka berpindah dari satu venue underground ke venue berikutnya, memastikan bahwa distorsi dan peluh tetap berjalan seirama tanpa kehilangan arah.