Sore itu, aroma kopi hitam tubruk menyengat pelan dari cangkir enamel yang terletak di atas amplifier usang. Di ruangan berukuran tidak lebih dari 4x4 meter ini, tumpukan pedalboard, kabel gitar yang melingkar kusut, dan beberapa lembar partitur coretan tangan bertebaran di lantai. Ini adalah markas di mana Murphy Radio menghabiskan waktu berjam-jam, bergulat dengan birama ganjil yang kerap bikin kepala pusing penikam musik biasa.

Bagi sebagian orang, genre math-rock diasosiasikan dengan kerumitan matematis yang kaku dan dingin. Namun, ketika duduk berhadapan langsung dengan para personelnya, kesan kaku itu langsung menguap. Yang tersisa hanyalah obrolan hangat tentang bagaimana mereka pertama kali meraba-raba instrumen, jatuh bangun merawat band secara mandiri, hingga akhirnya melahirkan karya-karya yang jujur tanpa beban komersial yang mencekik.

Menjaga Kewarasan di Balik Birama Ganjil

Perjalanan kreatif Murphy Radio tidak pernah instan. Jauh sebelum mereka merekam materi-materi matang seperti album self-titled mereka di tahun 2018—yang di dalamnya memuat nomor instrumental energetik seperti "Hippo", "Graduation Song", dan "Sports Between Trenches"—ada fase-fase coba-coba yang melelahkan. Mereka menghabiskan malam-malam panjang di studio sewaan, berdebat soal dinamika tempo dan perpindahan chord progression yang patah-patah.

"Kadang kami sendiri ketawa kalau pas lagi jamming nemu pattern yang aneh. Rasanya kayak lagi memecahkan rumus fisika, tapi lewat senar gitar," ujar salah satu personel sambil tertawa kecil, membenahi letak earphone di sakunya. Pendekatan organik inilah yang membuat nomor-nomor berikutnya seperti "Sandy" dan "Autumn" yang dirilis dalam format single pada tahun 2020 tetap bernyawa, memancarkan warna-warni sonik yang matang tanpa kehilangan sentuhan humanisnya.

Melanjutkan Narasi Lewat Karya Terbaru

Dinamika bermusik mereka terus berlanjut hingga fase rilisan single pada tahun 2023, di mana mereka menelurkan materi seperti "Pudar", "Penghujung Cerita", dan "Ibtida'". Di titik ini, pendengar bisa merasakan kedewasaan aransemen. Tidak ada lagi ego pamer skill yang berlebihan; yang ada adalah ruang napas yang pas antara petikan gitar yang rumit, ketukan beat drum yang presisi, dan jalinan bassline yang kokoh.

Merilis karya secara independen di era sekarang menuntut ketahanan mental tersendiri. Tidak ada label besar yang menyiapkan strategi pemasaran muluk-muluk. Semua dikerjakan dari bilik kamar, dari kantong sendiri, dan dari jejaring pertemanan skena yang solid. Ketika ditanya apa motivasi terbesar mereka untuk terus bertahan di jalur instrumen yang spesifik ini, jawabannya sederhana: kepuasan batin saat melihat track demi track berhasil direkam dengan jujur.

Matahari perlahan tenggelam di balik genting rumah tetangga, menyisakan bias jingga di kaca jendela studio. Obrolan sore itu ditutup tanpa pidato muluk-muluk atau proyeksi masa depan yang muluk. Bagi Murphy Radio, hari esok cukup dihadapi dengan kembali mencolokkan gitar ke amplifier, menyalakan pedal overdrive kesayangan, dan membiarkan jari-jari mereka menari di atas fretboard sekali lagi.


Referensi & Sumber

  1. Murphy Radio - Penghujung Cerita (Debu Kan Kembali Menjadi Debu - Single)
  2. Murphy Radio - Graduation Song (Murphy Radio)
  3. Murphy Radio - Pudar (Debu Kan Kembali Menjadi Debu - Single)
  4. Murphy Radio Official Discography & Releases