News

Keroncong di Tengah Kota: Magelang Tempo Doeloe Hidupkan Musik Masa Lampau

Di tengah dominasi musik digital dan tren yang silih berganti di media sosial, musik tempo doeloe ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat.

8 Juni 20263 min baca
Keroncong di Tengah Kota: Magelang Tempo Doeloe Hidupkan Musik Masa Lampau

CROWDNSURF, Magelang - Di tengah dominasi musik digital dan tren yang silih berganti di media sosial, musik tempo doeloe ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat. Hal itu terlihat dalam gelaran Magelang Tempo Doeloe yang berlangsung di Alun-Alun Kota Magelang pada 5–7 Juni 2026. Acara yang memadukan unsur sejarah dan seni ini menghadirkan berbagai pengalaman bernuansa masa lampau, termasuk pertunjukan musik keroncong yang sukses menarik perhatian pengunjung lintas generasi.


Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Panggoeng Moesik yang digelar pada Minggu (7/6) malam. Dalam kesempatan tersebut, Orkes Keroncong Mustika dari Karanggading, Magelang, membawakan lagu-lagu bernuansa klasik yang menghidupkan suasana tempo doeloe di tengah keramaian kota.


Ketua panitia Magelang Tempo Doeloe, Andri Topo, menjelaskan bahwa acara ini lahir dari keinginan untuk menggabungkan sejarah dan seni menjadi sajian yang dapat dinikmati masyarakat.


“Magelang Tempo Doeloe adalah penggabungan dari sejarah dan seni menjadi sebuah sajian yang mungkin bisa dinikmati oleh masyarakat,” ujarnya.


Menurut Andri, kehadiran musik keroncong bukan semata-mata karena genre tersebut, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun suasana masa lalu yang autentik. Ia menilai pengalaman bernostalgia tidak cukup hanya melalui visual, tetapi juga harus melibatkan unsur pendengaran.


“Kita ingin kembali ke lorong waktu zaman tahun 40-an, bahkan tahun 30-an. Jangan sampai hanya mata saja yang kita sajikan visual-visual kuno, telinga kita juga harus bersimbiosis di situ,” jelasnya.


Karena itu, panitia menghadirkan berbagai jenis musik yang identik dengan masa lampau, mulai dari musik etnik, keroncong, hingga band yang membawakan lagu-lagu era 1940-an hingga 1960-an.

Menariknya, seluruh penampilan musik dalam acara ini mengusung konsep komunitas. Panitia hanya menentukan daftar lagu yang sesuai dengan tema, sementara para pelaku seni diberikan kebebasan untuk menentukan personel, aransemen, hingga kostum yang digunakan.


“Siapapun boleh mengisi di sini karena konsepnya komunitas. Teman-teman komunitas musik sendiri yang memilih personelnya dan menyesuaikan penampilannya dengan suasana acara,” kata Andri.


Antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa musik tradisional dan musik tempo doeloe masih memiliki daya tarik, termasuk bagi generasi muda. Salah satu penonton, Veronica, mengaku tertarik menyaksikan penampilan keroncong karena kesempatan seperti ini tergolong langka di Magelang.


“Jarang-jarang ada performa keroncong di Magelang, dan ini event satu tahun sekali. Saya sebagai anak muda ingin mengeksplor lagi musik-musik Indonesia, apalagi keroncong yang sekarang sudah sangat jarang,” tuturnya.


Bagi Veronica, keroncong bukan sekadar musik masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas budaya Indonesia yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda. Ia berharap keberadaan musik keroncong tetap terjaga dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.


“Semoga keroncong tidak akan punah, masih tetap dilestarikan, dan anak-anak muda zaman sekarang lebih melestarikan lagi kebudayaan Indonesia seperti keroncong,” ujarnya.


Di era digital yang serba cepat, keberadaan acara seperti Magelang Tempo Doeloe membuktikan bahwa musik tempo doeloe masih mampu bertahan dan menemukan pendengarnya. Meski generasi muda hidup di tengah perkembangan teknologi dan tren musik modern, ketertarikan terhadap musik klasik dan budaya lokal tetap ada. Melalui ruang-ruang pertemuan seperti ini, keroncong tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang relevan hingga hari ini.


Bagikan:
X

Artikel Terkait