Pertengahan Februari 2026 kemarin, saya menyempatkan diri datang ke sebuah gig kecil di Gudang Selatan, Bandung. Tempatnya pengap, khas ruang alternatif yang dipaksakan jadi venue pertunjukan. Di luar, gerombolan anak muda sibuk memamerkan pakaian terbaik mereka—kebanyakan bergaya necis ala pekerja kantoran tahun sembilan puluhan yang nekat bolos kerja. Saya yang sudah berumur kepala empat ini tentu saja tak ikut moshpit. Boro-boro ikut stage dive, berdiri dua jam saja pinggang saya sudah minta ampun. Haha.

Saya perhatikan, anak muda zaman sekarang tampaknya mulai lelah dengan urusan politik praktis. Setelah keriuhan pemilu beberapa tahun lalu, skena musik hari ini terasa lebih apolitis, lebih suka bersenang-senang tanpa beban pikiran. Band-band bedroom pop dan city pop yang menawarkan pelarian manis kembali merajai panggung. Namun malam itu, ketika Dongker naik panggung, suasana langsung berubah 180 derajat. Delpi Suhariyanto langsung menggenjreng gitarnya, memicu koor massal lewat lagu "Bertaruh Pada Api".

Amarah Domestik yang Tak Membosankan

Dongker memang punya formula ajaib. Sejak merilis full-length album bertajuk Ceriwis Necropolis pada tahun 2024 lewat label Greedy Dust, mereka tak pernah terdengar seperti orator yang sedang berdemo di depan gedung DPR. Lirik buatan Delpi tak memakai jargon politik yang rumit. Mereka bercerita tentang kemarahan domestik, tentang kota yang makin sempit, dan tentang bertahan hidup. Itu sebabnya, anak muda yang tak peduli politik sekalipun tetap bisa berteriak lantang saat Arno bernyanyi.

Saya sempat mengobrol dengan seorang penonton bernama Daffa. Pemuda berusia 21 tahun itu memakai kaos Dongker yang sudah agak pudar. "Saya mah yang penting bisa teriak saja euy, Kang. Capek kuliah, butuh pelampiasan," katanya sambil memegang segelas es teh manis hangat—sebuah kombinasi minuman yang tak masuk akal bagi saya. Dari ucapan Daffa, saya paham bahwa amarah Dongker tak lagi dipandang sebagai gerakan ideologis, melainkan sebagai katarsis emosi yang sangat personal.

Kekacauan Teatrikal Leipzig

Setelah Dongker turun, giliran Leipzig yang mengambil alih panggung. Jika Dongker adalah amarah yang terstruktur, maka Leipzig adalah kekacauan murni. Band post-punk asal Bandung yang dimotori oleh Mario pada posisi lead vocal ini selalu sukses membuat penonton kebingungan sekaligus kegirangan. Musik mereka berisik, penuh dengan bassline yang repetitif dan ketukan drum yang memburu.

Malam itu, Mario tampil seperti orang kesurupan di atas panggung. Dia berteriak, melompat, bahkan sempat berguling di lantai panggung yang kotor oleh tumpahan air mineral. Lagu-lagu dari album Garbage Disposal Unit dibawakan dengan tempo yang terasa lebih cepat dari versi rekamannya. Leipzig tak menawarkan solusi atas masalah dunia, mereka hanya menyajikan cermin retak dari realitas sehari-hari yang berantakan.

"Leipzig tak sedang mencoba menyelamatkan dunia. Kami hanya sedang menertawakan diri sendiri," ujar Mario saat saya temui di backstage setelah penampilan mereka selesai.

Mengapa Mereka Tetap Relevan?

Melihat antusiasme penonton malam itu, saya menyadari satu hal. Relevansi Dongker dan Leipzig di tahun 2026 tak terletak pada seberapa vokal mereka menyuarakan isu sosial. Mereka tetap relevan karena mereka jujur. Di tengah gempuran musik yang serba rapi, dikurasi dengan estetika media sosial yang kelewat steril, kekacauan yang ditawarkan kedua band ini terasa sangat manusiawi.

Mereka tak jualan utopia. Mereka tahu dunia sedang tak baik-baik saja, dan alih-alih meratapinya dengan lagu balada yang cengeng, mereka memilih untuk merayakannya dengan distorsi maksimal. Bagi anak muda yang lelah dengan tuntutan hidup, distorsi itulah yang paling masuk akal untuk didengarkan lewat earphone mereka saat pulang kerja atau kuliah.

Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang tentang anak muda yang energinya tak habis-habis. Pinggang saya makin terasa pegal setelah mengingat kembali keriuhan di Gudang Selatan kemarin. Saya mau minum jamu pegal linu dulu lalu tidur. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal yang lebih santai untuk diulas. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Dongker Rilis Album Penuh Perdana Ceriwis Necropolis
  2. Leipzig - Garbage Disposal Unit