Rabu malam tanggal 7 Januari 2026 kemarin, saya duduk di depan laptop dengan segelas kopi hitam yang sudah dingin. Saya berniat membeli tiket showcase intim grup punk asal Bandung, Dongker, yang rencananya digelar di Rossi Musik Fatmawati. Kapasitas venue legendaris di Jakarta Selatan itu tak banyak, paling cuma menampung 150 orang. Tiketnya dijual seharga 75 ribu perak lewat sebuah platform ticketing lokal.

Tepat pukul tujuh malam, saya klik tombol beli. Sialan, layarnya malah berputar-putar seperti komidi putar di Dufan. Pas halaman terbuka, tahu-tahu ada tulisan "Sold Out". Bayangkan, 150 tiket ludes dalam waktu 42 detik saja! Saya hanya bisa melongo. Jari-jari saya yang sudah berumur kepala empat ini jelas tak sanggup bersaing dengan kecepatan jempol anak-anak gen Z yang terlatih main game online. Haha.

Kejadian ini membuat saya berpikir. Dulu, sekitar belasan tahun lalu sewaktu saya masih aktif jadi wartawan majalah musik, menonton gigs di Rossi Musik mah tak perlu pakai acara rebutan tiket online segala. Kita tinggal datang, bayar tiket OTS di meja plastik dekat tangga, lalu masuk ke ruangan yang panas dan pengap itu. Sekarang, urusan menonton band indie lokal yang tampil di ruangan sempit saja susahnya minta ampun.

Saya sempat mengobrol dengan Rizky Aulia—atau yang biasa dipanggil Kiki Ucup, promotor festival yang sering mengurusi panggung-panggung musik di Jakarta. Saya bertanya, kenapa gigs kecil sekarang seolah jadi rebutan seperti sembako murah. Ucup tertawa lalu berkata, “Sekarang mah orang datang ke gigs intim bukan cuma mau dengerin lagu, Mas. Tapi biar bisa bikin konten Instagram Stories dari jarak dekat banget sama vokalisnya.”

“Sekarang mah orang datang ke gigs intim bukan cuma mau dengerin lagu, Mas. Tapi biar bisa bikin konten Instagram Stories dari jarak dekat banget sama vokalisnya.”
— Rizky Aulia (Kiki Ucup)

Ucapan Ucup ada benarnya. Gigs intim kini bergeser fungsinya menjadi komoditas sosial. Ada kepuasan tersendiri bagi sebagian penonton jika bisa memamerkan video berdurasi 15 detik dengan sudut pandang yang sangat dekat dengan musisi di panggung. Masalahnya, banyak dari penonton dadakan ini yang tak terlalu hafal lagu-lagunya. Mereka datang hanya karena tak mau ketinggalan tren alias FOMO. Tak heran jika belakangan muncul istilah talking crowd—penonton yang malah asyik mengobrol dengan suara keras saat band sedang memainkan set akustik yang sunyi.

Saya juga sempat menghubungi Delpi Suhariyanto, gitaris sekaligus otak di balik lagu-lagu Dongker. Lewat pesan WhatsApp, Delpi bercerita bahwa bandnya sendiri kadang heran dengan fenomena ini. “Kami senang tiket cepat habis, Mas. Tapi kadang kasihan sama pendengar lama yang benar-benar pengin moshpit tapi tak kebagian tiket karena kalah cepat sama calo jastip tiket di Twitter,” kata Delpi.

Memang menyebalkan melihat tiket gigs mandiri seharga puluhan ribu rupiah tahu-tahu dijual kembali oleh akun-akun jastip dengan harga dua kali lipat. Saya mah boro-boro mau membeli tiket dari calo digital begitu. Uang pensiun jurnalis musik tak seberapa, masa harus habis buat menyumbang keuntungan para pemburu tiket oportunis itu. Hehe.

Ya sudahlah. Saya tak usah memaksakan diri ikut-ikutan war tiket lagi di masa depan. Menonton konser lewat layar HP orang lain di media sosial rasanya sudah cukup membuat saya tahu apa yang terjadi di Rossi Musik malam itu. Lebih baik saya rebahan di kamar, menyalakan kipas angin, lalu mendengarkan album mereka lewat earphone sambil menikmati sisa kopi dingin saya. Setidaknya, kuping saya tak perlu berdenging selama dua hari akibat sound system yang terlalu kencang. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Dongker Rilis Single Baru dan Jadwal Tur Intim
  2. Rossi Musik Fatmawati: Rumah Bagi Skena Independen Jakarta