Sore itu, aroma sirkuit amplifier yang mulai panas beradu dengan bau kopi hitam sisa semalam di sudut ruangan. Di sebuah petak studio sewaan yang terletak di pinggiran Depok, kabel-kabel jack berserakan kusut di lantai semen tanpa karpet. Tidak ada pendingin udara yang bekerja optimal; hanya ada satu kipas angin besi berisik yang berputar pelan, mencoba mengusir gerah.

Di situlah mereka duduk. Personel Sukatani tidak sedang merencanakan strategi pemasaran atau memikirkan algoritma streaming digital. Mereka sedang sibuk berdebat soal seberapa kotor gain yang pas untuk pedal distorsi sebelum track dasar direkam ulang. Bagi mereka, kejujuran bunyi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh standar industri mana pun.

Menolak Lupa dari Akar Bunyi

Perjalanan Sukatani merajut katalog rilisan mereka dimulai dari album penuh perdana Gelap Gempita yang dilepas pada 2023. Album tersebut memuat nomor-nomor seperti "Gelap Gempita", "Semakin Tua Semakin Punk", "Jangan Bicara Solidaritas", "Sukatani", "Tanam Kemandirian", hingga "Realitas Konsumerisme". Setiap track di dalam LP ini merekam bagaimana keresahan sosial diterjemahkan langsung ke dalam struktur chord progression yang mendesak dan ketukan drum rapat.

Mereka tidak mencoba terdengar rapi atau ramah di telinga penikmat pop arus utama. Ambil contoh bagaimana track "Jangan Bicara Solidaritas" dibangun di atas fondasi bassline yang tebal dan ketukan beat cepat, mencerminkan kejengkelan personal terhadap retorika kosong kawan seangkatan. Begitu pula pada "Realitas Konsumerisme", di mana raungan riff gitar dan vokal berteriak lantang membedah gaya hidup instan yang kian mencekik ruang hidup urban.

Merawat Amarah di Garis Waktu

Memasuki tahun 2025, langkah kaki Sukatani belum juga melambat. Mereka merilis single terbarunya, "Tumbal Proyek", yang kembali menegaskan ketajaman insting mereka dalam membaca situasi sekitar lewat medium musik. Tidak berhenti di situ, mereka juga berkolaborasi dalam single "Pesantren Kilat (feat. Sukatani)" yang dirilis pada tahun yang sama, membuktikan bahwa eksplorasi tema dan dinamika aransemen mereka terus bergerak cair tanpa kehilangan karakter dasar.

Di dalam ruang studio yang sempit itu, tidak ada sekat antara musisi dan pendengar. Saat proses mixing berjalan di atas layar komputer tua dengan speaker monitor berukuran sedang, tawa kecil kerap pecah tatkala mereka mendapati suara feedback yang bocor secara natural. Mereka membiarkan ketidaksempurnaan itu tetap ada, karena di situlah nyawa sebuah band independent bersemayam—bukan di balik meja produser yang steril.

Menatap hari-hari mendatang, Sukatani memilih jalan sunyi yang bising. Mereka tetap memegang kendali penuh atas karya fisik, merchandise, hingga rilisan kaset pita yang mereka distribusikan sendiri dari tangan ke tangan. Ketika lampu amplifier dimatikan dan pintu studio ditutup rapat, amarah dan kegelisahan itu tidak lantas padam; mereka menyimpannya rapat-rapat, siap diledakkan kembali di atas panggung gigs akhir pekan berikutnya.


Referensi & Sumber

  1. Sukatani - Gelap Gempita (Gelap Gempita)
  2. Sukatani - Semakin Tua Semakin Punk (Gelap Gempita)
  3. Sukatani - Jangan Bicara Solidaritas (Gelap Gempita)
  4. Sukatani Discography & Release History