FSTVLST gelar sesi dengar album “Paradoks Diametral” di Magelang.
FSTVLST Menggelar sesi dengar album baru mereka “Paradoks Diametral” pada tanggal 20 April 2026. Sesi dengar ini diadakan di Warung Makan Gemati, dengan kuota peserta yang terbatas.

CROWDNSURF, Magelang - FSTVLST Menggelar sesi dengar album baru mereka “Paradoks Diametral” pada tanggal 20 April 2026. Sesi dengar ini diadakan di Warung Makan Gemati, dengan kuota peserta yang terbatas. Program sesi dengar atau hearing season ini diinisiasi langsung oleh FSTVLST, dijalankan oleh mesin FSTVLST yang merupakan Roadies FSTVLST.
Selain itu FSTVLST juga membawa merchandise resmi FSTVLST. Dalam road trip sesi dengar kali ini, FSTVLST berkolaborasi dengan mediotones (sistem audio) dan bojakramapress (lembaga penerbit rilisan fisik). Magelang menjadi kota ke-9 dalam road trip sesi dengar album “Paradoks Diametral”.
Road trip pertama dari album “Paradoks Diametral” akan berakhir di kota Salatiga. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ale Mufid Arifin yang menjadi host dalam sesi dengar album “Paradoks Diametral”. Pemutaran lagu dalam album “Paradoks Diametral” dilakukan secara acak menggunakan kocokan yang langsung dipilih oleh para pendengar yang hadir.
Dalam album “Paradoks Diametral” terdapat 12 track lagu, namun dalam sesi dengar ini hanya 6 track lagu yang akan didengarkan bersama. Sumpah Galaxy dan Rock Jelek menjadi lagu pembuka dalam sesi dengar album baru mereka. Kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan 4 track lagu lainnya dalam album baru mereka. Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.), Jefferson, Enam Masa, dan Pratuntas menjadi 4 track lagu yang diputar dalam sesi dengar ini.
Pendengar berkesempatan untuk memberikan tanggapan atau respon secara langsung setelah mendengarkan lagu dalam album “Paradoks Diametral”. Pendengar beranggapan bahwa album “Paradoks Diametral” memberikan warna baru untuk karya FSTVLST, album ini terasa lebih dewasa dengan menghadirkan aransemen musik yang berbeda dari dua album FSTVLST sebelumnya.
Setelah mendengarkan 6 track lagu dalam album “Paradoks Diametral” mesin FSTVLST memberikan kesempatan untuk mendengarkan satu track lagu yaitu Apa Kabar Opus sebagai penutup dalam sesi dengar ini. Ale Muhfid Arifin, salah satu mesin FSTVLST menjelaskan bahwa sesi dengar ke beberapa kota merupakan serangkaian promo dari album baru mereka “Paradoks Diametral”. Sesi dengar ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memperdengarkan “Paradoks Diametral” sebelum album dirilis ke Digital Streaming Platform (DSP).
“Dalam perjalanan tour ini tidak hanya sesi dengar namun juga membuka pemesanan rilisan fisik album “Paradoks Diametral” dan interaksi dengan pengunjung tentang “Paradoks Diametral” setelah diperdengarkan” Jelas Ale.
Walaupun acara sesi dengar diadakan di hari Senin, para pengunjung tetap antusias untuk datang dan mendengarkan album “Paradoks Diametral”.
Adil adalah salah satu peserta yang antusias untuk datang dalam sesi dengar album “Paradoks Diametral”. Menurutnya sesi dengar yang diadakan FSTVLST sangat menyenangkan, dengan mendengarkan musik baru dari FSTVLST. Seperti Enam Masa dengan aransemen yang berbeda, Adil juga menambahkan bahwa Tri Esa (Ibid., Op. Cit., Loc. Cit.) menjadi lagu favoritnya dalam album “Paradoks Diametral”.
Sesi dengar ini tidak hanya sebagai tour promosi album baru FSTVLST, namun juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mendengarkan memberikan tanggapan tentang album “Paradoks Diametral” sebelum album dirilis ke Digital Streaming Platform (DSP).
Artikel Terkait

Keroncong di Tengah Kota: Magelang Tempo Doeloe Hidupkan Musik Masa Lampau
Di tengah dominasi musik digital dan tren yang silih berganti di media sosial, musik tempo doeloe ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Hidupkan Kembali Ekosistem Musik Lokal, Magelang Record Store Day (RSD) 2026 Buktikan Rilisan Fisik Musik Masih Tinggi Peminat
Magelang Record Store Day (MRSD) 2026 sukses menjadi ajang yang mempertemukan kolektor, pelaku industri kreatif, dan penikmat musik melalui record market, diskusi, serta pertunjukan seni, sekaligus membuktikan bahwa minat terhadap rilisan fisik dan ekosistem musik lokal Magelang terus tumbuh di tengah era digital.

Saat Media Musik Jadi Boneka Politik
Sejak dulu, media musik selalu menjadi tempat bebas di mana orang bisa berekspresi tanpa campur tangan pemerintah.