Sore kemarin, duduk di teras studio sambil menyeruput kopi saset yang mulai dingin, saya mendadak mikir soal musisi-musisi muda kita hari ini. Nama Nadin Amizah mah tentu saja langsung nongol di kepala saya. Waktu pertama kali dengar lagu-lagunya, saya sempat merasa, "Duh, anak ini nulis lirik pakai kamus bahasa apa sih, kok kayaknya dalam banget?" Haha. Maklum, kepala saya yang sudah diisi berbagai macam bisingnya piringan hitam lawas kadang lambat nangkap metafora baru.

Kalau kita ngomongin diskografi Nadin, perjalanan karyanya dari single awal sampai album penuh memang punya daya tarik tersendiri. Ambil contoh rilisan tahun 2019 yang berjudul "Sorai" atau "Rayuan Perempuan Gila". Waktu itu, Nadin seperti sedang merangkai narasi personal yang jujur tentang kerapuhan manusia. Saya ingat betul bagaimana track-track itu berputar di pemutar audio mobil saya saat macet di jalanan Jakarta. Suasananya langsung berubah jadi sendu, padahal aslinya saya lagi bete gara-gara klakson bus kota.

Masuk ke tahun 2020, album penuh perdana bertajuk Selamat Ulang Tahun dirilis. Di sinilah saya merasa Nadin menemukan formula matangnya. Ada track seperti "Bertaut" yang sukses bikin banyak anak muda—dan bapak-bapak beruban kayak saya—merenungkan hubungan rumit dengan orang tua. Lalu ada juga "Mendarah" dan "Taruh" yang melengkapi durasi LP tersebut dengan aransemen vokal khas falsetto yang tipis tapi menusuk. Kalau didengar lewat headphone yang bagus, dinamika mixing-nya benar-benar bikin kita duduk diam.

Lalu, lompat ke tahun 2023, album Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya hadir membawa warna baru. Di album ini, Nadin menyuguhkan nomor-nomor seperti "Di Akhir Perang", "Kekal", dan "Berpayung Tuhan". Pendekatan musikalnya terasa makin matang. Chord progression dan aransemen instrumen di album ini menunjukkan kalau Nadin tak mau jalan di tempat. Dia terus bereksperimen dengan dinamika vokal dan tata suara yang megah namun tetap intim.

Sebagai penulis yang kerjanya cuma bisa mengkritik lewat tulisan, saya kadang iri sama cara Nadin meramu kata-kata. Boro-boro bisa bikin lirik puitis begitu, nulis email kantor aja saya sering salah ketik. Hehe. Tapi ya sudahlah, setidaknya kita masih punya musisi yang serius merawat bahasa Indonesia di dalam ranah pop folk kita. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal yang lebih seru dari ini. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Nadin Amizah - Bertaut (Selamat Ulang Tahun)
  2. Nadin Amizah - Rayuan Perempuan Gila (Rayuan Perempuan Gila - Single)
  3. Nadin Amizah - Sorai (Sorai - Single)
  4. Diskografi Resmi Nadin Amizah