Sore itu di meja kedai kopi langganan saya, udara terasa cukup gerah. Saya memasang earphone ke telinga, bersiap mendengarkan materi terbaru dari Enau yang baru saja mendarat di platform digital. Jujur saja, saya tak punya ekspektasi muluk-muluk, tapi selalu ada rasa penasaran ketika seorang musisi independen merilis karya anyar mereka ke hadapan publik.
Enau, yang mula-mula dikenal lewat keunikannya memadukan instrumen perkusi non-konvensional dan gaya bernyanyi yang khas, kembali membuktikan konsistensinya di skena musik lokal. Karakter vokal yang serak-serak basah berpadu dengan ketukan ritmis membuat aransemen lagu ini langsung menempel di kepala sejak pendengaran pertama. Ada kejujuran yang terpancar dari bagaimana track ini dikemas secara audio.
Kalau kita membedah bagian demi bagian, departemen instrumennya dikerjakan dengan cukup rapi. Tidak ada distorsi yang berlebihan atau pamer teknik instrumen yang melelahkan telinga. Bagian hook-nya bekerja dengan baik sebagai earworm yang membuat jari saya tak sadar mengetuk meja kafe. Produksi rekamannya menjaga keseimbangan antara dinamika organik dan kejernihan modern yang pas untuk didengar lewat perangkat seluler maupun headphone rumahan.
Bagi saya pribadi yang sudah sering bolak-balik meliput gigs dan mendengarkan ribuan album lokal, rilisan semacam ini mengingatkan kenapa saya dulu jatuh cinta pada musik independen. Tak ada polesan industri yang terlalu kaku; yang ada hanyalah ekspresi mentah dari seorang musisi yang menuangkan keresahannya ke dalam format rekaman.
Ya sudahlah. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal yang lebih seru dari ini. Hehe.


