Hari Minggu kemarin, saya duduk di sudut ruang kerja sambil merapikan tumpukan CD dan kaset lama yang berserakan. Di sela-sela aktivitas membosankan itu, algoritma pemutar musik digital saya tiba-tiba memutar sebuah track yang belakangan cukup sering wara-wiri di berbagai fanzine dan media musik lokal. Lagu itu berjudul "Pergi Hilang dan Lupakan" yang dibawakan oleh band pop punk asal Jakarta, Remember of Today.
Saya tak tahu pasti mengapa baru sekarang lagu ini mampir serius ke headphone saya. Padahal, kalau merunut jejak digitalnya, band yang beranggotakan Frodo di posisi vokal, Stanley pada gitar, Aki di bass, dan Plentoz di drum ini sudah melepas karya tersebut beberapa tahun lalu di bawah naungan label Didi Music World. Ya maklumlah, kadang selera saya memang agak lambat kalau urusan memantau rilisan digital terbaru. Haha.
Ketika track ini menghentak lewat bagian intro, pendengaran saya langsung menangkap karakter sound gitar yang dominan dengan distorsi tipikal band pop punk era awal 2000-an. Tempo drum yang cepat langsung mengajak kepala saya mengangguk-angguk kecil, mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya sering nongkrong di toko rilisan fisik sambil mendengarkan album dari Blink-182 atau Simple Plan. Rasanya akrab, tak asing di telinga.
Lalu, bagaimana dengan liriknya? Mengingat saya tak mau asal comot atau mengarang baris kalimat seperti kebiasaan sebagian penulis ulasan instan, saya coba menyimak tiap kata yang dilantunkan Frodo. Lagu ini bercerita tentang kepedihan sebuah hubungan yang harus berakhir. Tentang seseorang yang mencoba merelakan kepergian kekasihnya meski proses itu menyakitkan. Tak ada pretensi puitis yang berlebihan di sini; bahasanya lugas, jujur, dan sangat dekat dengan keseharian anak muda.
Mari kita tengok bagian reff-nya yang menjadi inti dari emosi lagu ini. Frodo menyanyikannya dengan power vokal yang prima dan penuh penghayatan:
"Pergi hilang dan lupakan Semua kenangan yang telah kita lewati Jangan pernah kau tanyakan lagi Karna ku takkan sanggup kembali"
Lirik yang lugas dan gampang nempel di kepala ini memang punya daya magis tersendiri. Tak heran kalau lagu tersebut gampang dicerna dan dinyanyikan koor bareng oleh penonton saat mereka manggung di berbagai gigs. Ada kejujuran rasa frustrasi yang terpancar dari tiap barisnya, membuat pendengar yang pernah mengalami patah hati serupa merasa ditemani.
Secara aransemen, Remember of Today tak mencoba bereksperimen terlalu jauh ke wilayah yang rumit. Mereka tahu betul formula pop punk yang efektif: riff gitar yang renyah, bassline yang bergerak dinamis mengawal beat drum, serta hook vokal yang mudah diingat. Buat saya pribadi, kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan utama mereka di tengah gempuran tren musik yang kian beragam saat ini.
Ya sudahlah. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal yang lebih seru dari ini untuk kita bedah lagi di meja kopi. Hehe.
