Minggu lalu, saya menghabiskan waktu di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, mencoba memutar full-length album terbaru dari Perunggu yang berjudul Dalam Dinamika (2025). Jujur saja, saya sempat skeptis. Apakah mereka bisa mengulang magis yang mereka torehkan di Memorandum (2022)? Mengingat Memorandum adalah salah satu rilisan lokal yang paling sering saya putar di IEM saya saat terjebak macet, ekspektasi saya tentu saja agak tinggi. Hehe.
Begitu track pertama mulai bergulir, saya langsung sadar bahwa Perunggu masih orang-orang yang sama. Mereka masih mahir meramu keresahan kelas menengah yang terjepit di antara tuntutan pekerjaan dan keinginan untuk tetap waras. Ada sound yang lebih matang, lebih terukur, namun tetap menyisakan ruang bagi distortion yang pas di telinga. Saya tak menemukan pretensi berlebih di sini, hanya kejujuran yang dibalut aransemen yang rapi.
Bedah Dinamika yang Matang
Mari kita bicara soal single andalan mereka, Gemilang. Lagu ini punya hook yang cukup kuat untuk membuat saya mengangguk-angguk di tengah keramaian kedai kopi. Ada semacam optimisme yang tak naif di sana. Sementara itu, Pikiran Yang Matang menyajikan refleksi yang cukup dalam. Saya merasa lagu ini seperti tamparan pelan bagi siapa saja yang merasa sudah cukup dewasa tapi sebenarnya masih sering bingung dengan arah hidup sendiri. Saya pribadi merasa terwakili, euy.
Lalu ada Aku Ada Untukmu dan Berhasil. Keduanya memperlihatkan sisi lain dari band ini. Jika di Memorandum kita disuguhi lagu-lagu seperti Kalibata, 2012 atau 33x yang terasa sangat personal dan spesifik, di album Dalam Dinamika ini, mereka seolah ingin merangkul pendengarnya dengan cara yang lebih hangat. Berhasil, misalnya, punya groove yang enak sekali untuk didengarkan saat sedang santai di rumah.
Nostalgia Memorandum
Tentu saja, saya tak bisa melupakan track dari album sebelumnya yang masih sering saya putar. Ini Abadi dan Pastikan Riuh Akhiri Malammu masih menjadi anthem bagi saya pribadi. Ada sesuatu dari chord progression mereka yang selalu berhasil memancing memori lama. Rasanya seperti bertemu kawan lama yang sudah lama tak bersua, tapi obrolannya langsung nyambung begitu saja.
"Kalibata, 2012"
Mengingat kembali lagu tersebut, saya jadi teringat masa-masa di mana semuanya terasa lebih sederhana. Perunggu memang punya bakat untuk memotret momen-momen kecil menjadi sesuatu yang monumental. Mereka tak butuh lirik yang puitis berlebihan, cukup narasi yang membumi, dan itu sudah lebih dari cukup. Saya tak tahu apakah mereka akan merilis versi vinyl untuk album ini, tapi kalau iya, saya pasti akan antre di merch booth saat mereka mengadakan showcase nanti.
Ya sudahlah. Semoga di tulisan berikutnya ada rilisan lokal yang lebih seru dari ini. Hehe.
