Hari Sabtu sore, tanggal 14 Februari 2026 kemarin, saya berdiri di depan loket tiket sebuah festival musik independen di kawasan Jakarta Selatan. Niat awal saya sederhana saja: ingin melepas penat setelah seminggu penuh berkutat dengan tenggat waktu artikel redaksi. Tapi, begitu mata saya menatap papan harga tiket on the spot (OTS), spontan saya mengelus dada. Angkanya menyentuh angka 850 ribu perak. Belum termasuk biaya parkir, pajak hiburan, dan segelas es kopi susu tetangga yang harganya kini sudah setara bensin seliter. Saya menelan ludah. Haha. Boro-boro mau jajan merchandise band kesayangan, buat bayar ojek online pulang ke rumah saja rasanya harus hitung koin dulu.

Fenomena inflasi harga tiket festival musik di tahun 2026 ini sungguh tak masuk akal bagi saya yang tumbuh di era ketika menonton gig lokal di ruang publik atau cafe kecil cukup merogoh kocek 25 ribu rupiah saja. Dulu, skena kita dibangun di atas keringat, solidaritas, dan tentu saja kantong pas-pasan anak kos. Sekarang? Menonton band idola di festival musik rasanya sudah naik level menjadi investasi jangka panjang. Saya jadi teringat obrolan dengan Adjis Doaibu beberapa bulan lalu di sebuah warkop. Sambil membakar rokok kretek, dia bilang, "Gua mau nonton band festival sekarang males euy, duitnya mending buat benerin knalpot motor." Betul juga sih pikir saya waktu itu.

Yang bikin saya geleng-geleng kepala mah bukan cuma soal mahalnya harga tiket, melainkan siapa saja yang memenuhi barikade depan. Kalau dulu deretan penonton paling depan diisi oleh anak-anak moshpit yang hafal di luar kepala setiap chord progression dari album split band hardcore kesayangan mereka, sekarang justru dipenuhi oleh pasukan FOMO (Fear of Missing Out). Mereka datang bukan karena paham diskografi si musisi headline, melainkan demi konten Reels Instagram dan TikTok berdurasi 7 detik. Saya sempat melihat seorang gadis muda di sebelah saya bertanya pada temannya tepat saat intro lagu dimainkan, "Eh, ini lagu yang viral di FYP itu bukan sih?" Saya hanya bisa mengelus dada sambil merapikan tali strap tas pinggang saya.

Tentu saja, para promotor punya segudang alasan logis untuk menaikkan harga. Mulai dari lonjakan biaya produksi stage, mahalnya sewa sound system berstandar internasional, hingga rider hotel bintang lima untuk penampil utama. Masuk akal memang. Tapi, apakah semua festival harus dikemas semegah itu dengan mengorbankan dompet penonton kelas pekerja? Saya tak tahu pasti jawabannya. Yang jelas, ekosistem pertunjukan kita sedang bergeser pelan-pelan menjadi arena pamer status sosial. Siapa yang sanggup beli tiket VIP, dialah yang paling update secara kultural.

Di tengah gempuran harga tiket yang kian mencekik leher, saya melihat sisa-sisa harapan di panggung-panggung kecil skena arus bawah. Minggu lalu, saya mampir ke sebuah showcase ruang kolektif di bilangan Tebet yang mematok tiket seharga 50 ribu perak saja. Tanpa tata lampu megah berteknologi laser, tanpa layar LED raksasa di sisi panggung, tapi auranya luar biasa intim. Keringat penonton bercampur jadi satu di ruangan sempit, sound amplifier gitar overdriven pecah di telinga, dan semua orang bernyanyi bersama tanpa sibuk mengacungkan smartphone ke udara. Rasanya jauh lebih jujur ketimbang festival akbar yang tiketnya seharga cicilan motor matic itu.

Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang soal mahalnya industri hiburan negeri ini. Toh, kalaupun saya protes lewat tulisan ini, harga tiket festival toh takkan turun jadi 50 ribu rupiah besok pagi. Semoga saja di akhir pekan berikutnya masih ada panggung-panggung kecil independen yang sudi menerima dompet saya yang tipis ini. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. CrowdnSurf Archive: Catatan Harga Tiket Konser dan Festival Musik Independen Indonesia