Hari Selasa minggu lalu, saya duduk di sebuah warung kopi bilangan Fatmawati sambil menatap layar handphone. Bosan membaca grup WhatsApp yang isinya cuma perdebatan soal harga minyak goreng dan jadwal servis motor, perhatian saya tersangkut pada sebuah flyer Instagram. The Jansen, band asal Bogor yang kerap bikin anak muda kacamata juling melompat-lompat di moshpit, merilis jadwal panggung mereka untuk kuartal pertama 2026. Saya taruh gelas kopi hitam saya di atas meja plastik yang sudah agak lengket. Pikir saya, wah, boleh juga nih kalau akhir pekan nanti badan yang mulai gampang masuk angin ini diajak bergesekan di gig kecil.

Menghitung Hari Menuju Panggung Intim

Bagi saya yang sudah kepala empat—atau hampir, ah sudahlah, mari kita lewati detail usia yang menyedihkan itu—menonton band rock and roll di venue berkapasitas 200 orang punya daya tarik tersendiri. Boro-boro mencari kenyamanan sofa empuk atau VIP section dengan meja bundar, sensasi mencium bau keringat orang lain sambil berteriak koor lagu "Langit Tak Seharusnya Biru" jauh lebih mujarab buat melunturkan penat kerjaan kantor. Dari data rilisan yang saya catat di buku agenda kecil saya, album Banal Semakin Binal yang dilepas tahun 2022 silam ternyata masih punya nyawa yang sangat panjang di atas panggung. Lagu-lagu seperti "Kau Pemeran Utama di Sebuah Opera" dan "Mereguk Anti Depresan Lagi" terus-menerus menjadi anthem wajib koor massal di setiap titik gigs.

"Mereguk anti depresan lagi / Berharap semua ini lekas pergi..."

Mendengar lirik itu dinyanyikan bareng ratusan orang di ruangan yang sumpek dan pengap karena AC venue yang mati atau kurang dingin, rasanya seperti terapi massal kelas pekerja. Tak ada jarak antara anak-anak band di atas panggung setinggi setengah meter dengan para penonton di barisan depan yang saling berebut memegang mic. Saya ingat obrolan saya dengan Arif, seorang anak muda penggiat rilisan fisik asal Depok, bulan lalu. Katanya, energi The Jansen di atas panggung itu konsisten, dari lagu pertama sampai track terakhir tidak ada rem blong. Dan memang begitu kenyataannya. Ketika mereka membawakan "Ku Bukan Mesin Lotremu" atau "Tipu Daya Sejarah", tempo drum yang rapat langsung memantik adrenalin penonton untuk melakukan stage dive amatiran yang sering kali bikin sang gitaris ketar-ketir pedalboard-nya terinjak.

Menyusuri Jejak Rilisan dan Gigs Lanjutan

Kalau kita telusuri rekam jejak mereka, The Jansen tak pernah muluk-muluk mengubah formula musiknya. Mereka tetap setia pada jalur power pop dan punk rock era 70-an akhir yang bising tapi renyah di telinga. Bahkan setelah mereka melepas single "berkelana dalam ruang dan mimpi" pada tahun 2023, serta kolaborasi apik lewat "Planetarium (feat. Mirakei)" di tahun 2022, warna musik mereka tetap punya benang merah yang jelas dengan track-track cadas seperti "Dua Bilah Mata Pedang". Di tahun 2026 ini, skena gig Jabodetabek kedatangan banyak penampil baru yang membawa laptop atau synthesizer minimalis. Tapi kehadiran band-band berformasi gitar, bass, dan drum seperti The Jansen di panggung-panggung independen tetap menjadi vitamin yang mujarab.

Saya sendiri berencana mendatangi salah satu titik di kawasan Selatan Jakarta akhir pekan ini. Bukan karena saya masih kuat berdiri dua jam, melainkan karena saya butuh alasan logis untuk keluar rumah selain beli token listrik. Ya sudahlah, semoga sound system di venue nanti tidak sember dan kantong saya masih cukup buat bayar tiket OTS. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. The Jansen - Langit Tak Seharusnya Biru (Banal Semakin Binal)

  2. The Jansen - Kau Pemeran Utama di Sebuah Opera (Banal Semakin Binal)

  3. The Jansen - Ku Bukan Mesin Lotremu (Banal Semakin Binal)

  4. The Jansen - Banal Semakin Binal Album Details

  5. The Jansen Official Discography Release Years