Hari Selasa minggu lalu, saya duduk di sebuah warung kopi kawasan Fatmawati sambil menatap layar laptop yang menampilkan daftar jadwal gig tahun ini. Kepala saya pusing memikirkan tagihan bulanan yang menumpuk. Tahu-tahu, mata saya mendarat pada sebuah poster promosi gig yang dibagikan oleh akun media sosial resmi Murphy Radio. Band instrumental asal Samarinda yang kini merantau dan mengakar di skena independen Bandung ini ternyata punya agenda panggung yang cukup padat di wilayah Jabodetabek sepanjang 2026.
Jujur saja, saya sempat mengerutkan dahi. Boro-boro merencanakan datang ke lima titik panggung sekaligus, ongkos bensin dan tol ke Jakarta saja sudah membuat dompet saya bergetar hebat. Haha. Tapi, ya, siapa yang bisa menolak daya tarik musik math-rock yang rumit tapi tetap asyik diajak manggut-manggut? Terlebih lagi, kali ini mereka tak sendirian. Mereka kerap berbagi panggung intim dengan Enola, unit shoegaze / post-rock asal Bogor yang, kalau boleh jujur, sound pedalboard-nya sering kali bikin sound engineer lokal keringat dingin karena distorsi dan wall of sound yang masif.
Agenda kolaborasi panggung intim mereka di Jabodetabek tahun 2026 ini dirancang menyambangi lima venue berbeda. Format acara seperti ini mengingatkan saya pada era kejayaan gig kolektif awal tahun 2000-an. Tak ada tata panggung megah berlayar LED raksasa. Yang ada hanyalah drum kit yang disetel mepet ke dinding, kabel jack berseliweran di lantai, dan para penonton yang berdiri berjarak kurang dari satu meter dari amplifier gitar. Bagi band seperti Murphy Radio yang mengandalkan presisi ritme ganjil dan dinamika lagu seperti "Autumn" atau "Sandy" dari album Vibrant Colors (2020), venue berskala intim adalah rumah terbaik mereka.
Saya ingat betul ketika pertama kali mendengarkan materi dari rilisan mereka. Kompleksitas ketukan drum dipadu petikan gitar yang bersahut-sahutan membuat saya berpikir, bagaimana cara mereka menghafal struktur lagu serumit itu tanpa salah hitung birama di atas panggung? Ketika membawakan track seperti "Void" dari rilisan tahun 2021 atau nomor segar keluaran 2023 seperti "Cats", interaksi antar personil di atas panggung menjadi tontonan utama. Tak ada frontman yang mondar-mandir menyapa penonton dengan teriakan "Mana suaranya Jakarta!". Komunikasi mereka murni lewat bahasa tubuh, anggukan kepala penanda ketukan, dan lirikan mata saat perpindahan chord progression.
Kombinasi Murphy Radio dan Enola di panggung-panggung kecil Jabodetabek ini ibarat mengawinkan dua kutub yang kontras namun pas. Di satu sisi, ada kerumitan teknis dan presisi metronomik ala Murphy Radio. Di sisi lain, ada terjangan reverb tebal dan delay berlapis dari Enola yang siap merontokkan gendang telinga penonton. Ketika track "Penghujung Cerita" atau "Pudar" dari album atau single tahun 2023 Debu Kan Kembali Menjadi Debu dilebur bersama raungan pedal fuzztone milik Enola di ruangan berkapasitas 100 orang, sensasinya tentu jauh berbeda dibanding mendengarkannya lewat earphone di dalam KRL commuter line.
Bagi kawan-kawan yang berencana mendatangi kelima titik gig intim ini, bersiaplah berdiri cukup lama karena kursi penonton biasanya adalah barang mewah di acara mandiri seperti ini. Jangan lupa membawa pelindung telinga sederhana jika Anda berniat berdiri tepat di depan speaker monitor. Saya sendiri mungkin hanya sanggup mendatangi dua titik dari lima jadwal yang disiapkan, menyesuaikan sisa saldo di aplikasi dompet digital saya yang kian menipis. Haha.
Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang soal jadwal gig kalau dompet belum tentu mengizinkan keliling Jabodetabek. Semoga rangkaian panggung Murphy Radio dan Enola ini berjalan lancar tanpa kendala teknis yang berarti. Kalau Anda bertemu saya sedang berdiri melamun di pojok venue sambil memegang segelas es teh manis, sapa saja ya. Sampai jumpa di moshpit tipis-tipis.
