Pada suatu sore di akhir Desember lalu, saya sedang menyeruput kopi susu hangat di kawasan Blok M—tepatnya di depan gulai tikungan yang legendaris itu—ketika ponsel saya bergetar. Ada pesan masuk dari kawan lama saya, namanya Daffa Kartika, seorang kolektor kaset pita yang juga sering jadi calo tiket dadakan. Dia mengirimkan poster digital bergambar coretan hitam-putih khas fanzine fotokopian. Di poster itu tertulis: Dongker x Leipzig, Live at Krapela, 16 Januari 2026. Tiket early bird dijual seharga 120 ribu perak, sementara harga OTS dipatok 150 ribu perak.

Melihat poster itu, ingatan saya langsung melayang ke beberapa tahun lalu saat band-band asal Bandung masih harus patungan menyewa mobil travel demi bisa main di Jakarta. Sekarang, zaman memang sudah bergeser, tapi gairah bising itu rupanya tak pernah padam. Dongker, unit punk asal Bandung yang dimotori oleh Delpi Suhariyanto sebagai gitaris sekaligus penulis lagu utama, belakangan ini memang sedang rajin-rajinnya meneror kuping pendengar lewat album penuh perdana mereka, Ceriwis Necropolis. Lagu-lagu mereka yang anthemic seperti "Bertaruh Pada Api" selalu sukses membuat moshpit riuh rendah.

Dua Kutub Chaos dari Bandung

Sementara itu, Leipzig adalah monster yang berbeda lagi. Jika Dongker adalah kemarahan yang bisa dinyanyikan bersama (sing-along), maka Leipzig adalah kegilaan murni yang tak punya rem. Saya ingat betul pertama kali menonton Leipzig di sebuah gig kecil di Bandung. Mario Panji, sang frontman Leipzig, bernyanyi seperti orang kesurupan mamang-mamang penunggang kuda lumping di atas panggung. Musik post-punk mereka yang cepat, patah-patah, dan bising adalah resep sempurna untuk membuat tubuh Anda pegal linu keesokan harinya.

Saya sempat bertanya pada Delpi lewat pesan singkat beberapa hari lalu mengenai konsep kolaborasi ini. "Del, ini nanti setlist-nya bakal digabung atau main gantian?" tanya saya. Delpi membalas dengan santai, "Gantian lah, Kang. Tapi nanti di akhir ada kejutan kecil. Rahasia dulu euy, biar penasaran." Dasar anak band Bandung, selalu saja punya cara untuk membuat penonton penasaran. Hehe.

Krapela dan Intimasi yang Meneteskan Keringat

Pilihan venue di Krapela, yang berlokasi di Row 9 Blok M, Jakarta Selatan, menurut saya adalah keputusan yang sangat tepat. Tempatnya tak terlalu luas, tapi justru keintiman seperti itulah yang dibutuhkan untuk sebuah gig punk yang sehat. Di Krapela, jarak antara penonton dan band tak dibatasi oleh pagar besi barikade yang kaku. Anda bisa berdiri begitu dekat dengan amplifier gitar, mencium bau keringat para personelnya, atau bahkan ketiban tubuh penonton lain yang sedang nekat melakukan stage dive.

Bagi saya yang umurnya sudah kepala empat ini, datang ke gig seperti ini tentu membutuhkan persiapan fisik ekstra. Boro-boro mau ikut berdesakan di moshpit atau melakukan crowd surfing seperti anak-anak muda belasan tahun. Bisa pulang ke rumah tanpa perlu mengoleskan balsem di pinggang saja sudah merupakan sebuah kemenangan besar bagi saya. Tapi tak apa-apa, menonton energi liar anak-anak muda ini dari sudut belakang dekat bar selalu memberi kesenangan tersendiri.

"Uang 150 ribu perak rasanya tak terlalu mahal untuk menebus encok dan kaos basah penuh keringat orang asing di Krapela."

Ya sudahlah. Saya rasa saya tak perlu menulis panjang-panjang lagi untuk meyakinkan Anda agar datang ke gig ini. Jika Anda merindukan kebisingan yang jujur tanpa pretensi, panggung Dongker dan Leipzig di Krapela ini wajib masuk ke kalender akhir pekan Anda. Saya sendiri mungkin akan berdiri paling belakang sambil memegang segelas minuman dingin dan mengangguk-angguk kecil menikmati ketukan drum. Pegal juga kalau harus ikut berdesakan di depan. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Dongker - Ceriwis Necropolis Review on Pop Hari Ini
  2. Leipzig - Garbage Disposal Unit Review on Pop Hari Ini