Hari Minggu lalu, tepatnya tanggal 14 Oktober 2023, saya berdiri di tengah kerumunan penonton di sebuah venue intim di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Acara malam itu adalah sebuah showcase peluncuran mini-album dari unit indie rock lokal yang saya lupa namanya — ah, ingatan saya memang payah kalau sudah berurusan dengan nama band baru yang mirip-mirip. Yang jelas, ada satu pemandangan yang langsung merusak pandangan mata saya sesudah lagu kedua dimainkan.
Begitu sang frontman memetik chord pertama dari single andalan mereka, puluhan tangan langsung terangkat serempak ke udara. Tapi anehnya, tangan-tangan itu tidak mengepal sambil berteriak meneriakkan lirik. Sebagian besar menggenggam smartphone dengan kamera menyala, merekam setiap jengkal penampilan band di atas panggung. Saya yang berdiri persis di belakang seorang pemuda berambut mangkok terpaksa harus menikmati konser malam itu lewat layar handphone si anak muda tersebut. Hehe. Bayangkan, saya datang bayar tiket 75 ribu perak pakai uang sendiri, tapi malah nonton konser gratisan dari rekaman vertikal orang lain.
Saya jadi merenung sendiri sambil menyeruput kopi saset yang saya beli di warung sebelah venue. Apakah kehadiran fisik kita di sebuah gigs sekarang sudah bergeser fungsi? Dulu, sewaktu saya masih rajin meliput band-band underground di era awal 2000-an untuk fanzine cetak, ritual menonton konser adalah soal bertukar keringat di moshpit, ikut bernyanyi sampai suara habis, dan membiarkan telinga berdenging selama tiga hari ke depan karena hantaman sound system dari amplifier yang jebol. Sekarang? Orang-orang datang ke venue bukan lagi untuk mencari katarsis batin, melainkan demi konten Instagram Stories berdurasi 15 detik dengan tulisan lokasi yang estetik.
Lucunya, kalau kita perhatikan rekaman video dari layar-layar penonton itu, kualitas audio yang tertangkap juga hancur lebur. Yang terdengar di speaker handphone mereka nantinya cuma suara angin berisik, distorsi bass yang pecah, dan teriakan sumbang penonton sebelah yang salah lirik. Tapi toh video itu tetap diunggah lengkap dengan caption sok puitis. Saya jadi merasa tua dan tertinggal zaman. Boro-boro mau ikut bergoyang, berdiri diam saja sudah ditegur karena menghalangi sudut pandang kamera orang yang sedang sibuk merekam gitaris memainkan solo.
Fenomena ini membuat saya berpikir ulang soal esensi sebuah live performance. Band di atas panggung jungkir balik memeras keringat, bernyanyi dengan urat leher menonjol, sementara penonton di barisan depan sibuk memastikan fokus kamera ponselnya tidak kabur. Ada semacam jurang pemisah yang tak kasat mata antara musisi dan audiens. Musik yang tadinya dirancang sebagai medium komunikasi langsung yang jujur, berubah fungsi jadi komoditas validasi sosial di dunia maya.
Ya sudahlah. Capek juga kalau terus-terusan mengomel soal kelakuan anak muda zaman sekarang. Toh saya sendiri kadang masih khilaf kepengin motret kalau band favorit masa remaja saya kebetulan manggung lagi. Tapi, setidaknya saya mencoba untuk tahu diri: simpan handphone-nya, nikmati rff gitarnya secara langsung, dan biarkan ingatan kepala kita yang merekam momen itu, bukan memory card berkapasitas 256 gigabyte. Semoga di gigs berikutnya saya tidak lagi salah posisi berdiri di belakang penonton yang hobi bikin video konser berdurasi penuh. Hehe.