Hari Minggu sore, tepatnya tanggal 14 Oktober 2023 lalu, saya duduk termangu di sebuah kedai kopi bilangan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Di headphone yang menempel di telinga saya, mengalir track milik band shoegaze asal Jakarta, Grrrl Gang, berlanjut ke nomor-nomor bising dari band Surabaya, Sunwich. Pikiran saya menerawang jauh, memikirkan bagaimana genre yang awalnya lahir di Inggris akhir dekade 80-an lewat raungan pedal gitar Kevin Shields dari My Bloody Valentine ini, sekarang justru tumbuh subur di kamar-kamar kosan pemuda Indonesia yang mungkin listrik rumahnya sering nunggak.
Saya ingat betul, sekitar 10 tahun lalu, band-band bergenre dream pop atau shoegaze lokal masih dianggap barang langka. Kalaupun ada, penontonnya ya itu-itu lagi. Muka-muka lama yang sering nongkrong di gerai rilisan fisik independen. Tapi sekarang? Boro-boro sepi. Setiap ada gigs skena mandiri, venue selalu dipadati anak-anak muda berjaket denim belel, celana cutbray, dengan potongan rambut ala personel Ride atau Slowdive. Hehe. Lucu juga melihat siklus tren berputar.
Salah satu band yang belakangan sering mampir di playlist saya adalah Sunwich. Unit indie pop/shoegaze asal Jakarta ini merilis full-length album debut mereka yang bertajuk Green pada tahun 2022 lalu lewat label demajors. Ketika saya mendengarkan track pembuka di album tersebut, telinga saya langsung dimanjakan oleh lapisan reverb yang tebal dan vokal Althea Callista yang terdengar seperti berbisik dari ujung lorong kosong. Tak ada lirik yang terdengar jelas di awal, tapi ya memang begitu esensinya, kan? Vokal di dalam shoegaze bukanlah instrumen utama yang harus jelas artikulasinya; ia hanyalah bagian dari dinding instrumen alias *wall of sound*.
“Walking through the haze / Nothing left to say...”begitu kutipan penggalan lirik dari salah satu nomor di album tersebut. Saya sempat bertanya pada diri sendiri, apa iya mereka paham betul akar sejarah genre ini, atau jangan-jangan mereka cuma ikut-ikutan tren karena melihat band-band seperti Beach House atau Cigarettes After Sex viral di TikTok? Tapi, begitu saya melihat pedalboard gitar sang gitaris saat mereka manggung di Rossi Musik Fatmawati, keraguan saya langsung sirna. Pedal Boss RV-3 dan berbagai jenis fuzz pedal berserakan di atas panggung. Itu bukan main-main. Harganya lumayan euy, bikin dompet anak band nyaris pingsan.
Fenomena menjamurnya band shoegaze lokal ini juga ditandai dengan maraknya rilisan kaset pita dan vinyl yang diproduksi oleh label-label kecil. Sebut saja Leeds Records atau Anoa Records yang konsisten merilis album fisik dari band-band pemuja pedal efek ini. Padahal, kalau dipikir-pikir secara bisnis, jualan kaset pita di zaman sekarang mah untungnya tipis banget. Orang-orang lebih memilih dengerin lewat Spotify atau Apple Music sambil nyengir di kereta rel listrik. Tapi para pelakunya tetap nekat merilis format fisik. Namanya juga idealisme anak muda, susah dilarang.
Saya jadi teringat obrolan saya dengan seorang kawan lama yang juga penggiat zine independen tahun lalu. Dia bilang, "Gue capek dengerin band sekarang. Kebanyakan malem-malem bikin lagu pelan pake chorus tebel biar dikira galau." Haha. Ada benarnya juga. Terkadang, band-band shoegaze lokal terjebak dalam formula klise: distorsi maksimal, drum ketukan lambat, dan vokal disembunyikan di balik efek delay. Kalau komposisi lagunya kurang kuat, ya jadinya malah mirip suara mesin pabrik tekstil yang rusak.
Meskipun demikian, saya tak boleh naif. Di balik repetisi aransemen yang kadang bikin mengantuk itu, ada energi otentik yang patut diacungi jempol. Band seperti Flukeminima atau Honeypain di masa lalu, hingga generasi baru seperti Grrrl Gang dan Sunwich hari ini, membuktikan bahwa skena musik independen kita punya warna yang kaya. Mereka tidak mengekor pasar industri mainstream yang isinya itu-itu terus. Ya sudahlah. Capek juga menulis panjang-panjang soal teori musik yang rumit. Semoga akhir pekan ini saya bisa kembali nongkrong di gigs lokal tanpa harus pusing memikirkan tagihan bulanan. Hehe.