Suatu Sabtu malam di bulan November 2023, saya menyempatkan diri datang ke Rossi Musik Fatmawati. Tiket OTS seharga 75 ribu perak sudah di tangan, dan saya berniat menonton beberapa band lokal yang namanya sering lewat di lini masa. Salah satu yang membuat saya penasaran adalah Sukatani, duo electronic punk asal Tangerang yang malam itu masuk dalam lineup.

Saya tak terlalu paham skena synth-punk Tangerang, tapi begitu Adi—sang frontman yang merangkap operator synth—naik ke panggung, suasana langsung berubah pekat. Tak ada basa-basi ramah tamah khas anak band yang ingin disukai penonton. Mereka langsung menghajar telinga kami dengan beat monoton yang gelap dan distortion kasar yang keluar dari sound system Rossi yang malam itu untungnya sedang prima. Hehe.

Lagu yang paling membekas di kepala saya malam itu tentu saja single mereka yang berjudul "Surat untuk HRD". Sebagai orang yang tak pernah bekerja di kantoran dengan jam kerja teratur, saya awalnya berpikir lagu ini tak akan nyambung dengan keseharian saya. Boro-boro berurusan dengan HRD, menulis lamaran kerja saja saya tak pernah becus. Tapi begitu liriknya meluncur, saya langsung paham mengapa anak-anak muda di moshpit malam itu berteriak sekencang-kencangnya seperti sedang kesurupan.

Lirik "Surat untuk HRD" ini sebenarnya sederhana, tapi justru di situ letak kekuatannya. Adi berteriak tentang rasa frustrasi kelas pekerja yang lamaran kerjanya tak pernah dibalas, atau ditolak karena syarat-syarat konyol yang tak masuk akal. Kontras sekali melihat bagaimana bahasa surat lamaran yang sopan diubah menjadi amarah mentah berbalut noise dan bassline yang dingin. Sukatani seolah sedang memproyeksikan amarah kelas pekerja dalam balutan punk gelap yang rasanya masih akan sangat relevan hingga tahun 2026 nanti.

"Kepada yang terhormat..." tapi dibawakan dengan nada seperti ingin melempar kursi ke kaca kantor. Haha.

Saya sempat mengobrol sebentar di luar venue dengan Daffa, seorang pemuda asal Pamulang yang malam itu kaosnya basah kuyup karena crowd surfing. "Gua relate banget euy sama lagu ini. Kemarin baru aja di-ghosting HRD padahal udah interview tiga kali," katanya sambil mengusap keringat. Saya hanya bisa mangut-mangut prihatin. Di titik ini, Sukatani berhasil menangkap jeritan kolektif mamang-mamang pekerja urban yang lelah ditindas sistem rekrutmen.

Secara musikal, track ini memang minimalis. Tak ada chord progression yang rumit atau solo gitar yang pamer skill. Semuanya bertumpu pada groove drum machine yang konstan dan vokal Adi yang terdengar seperti orang yang sudah begadang tiga hari berturut-turut karena dikejar tenggat waktu kerjaan. Mixing lagu ini juga dibuat agak lo-fi, memberi kesan kotor yang pas untuk tema yang mereka usung.

Ya sudahlah, tak usah saya perpanjang lagi ulasan ini. Menulis panjang-panjang tentang penderitaan kelas pekerja juga tak membuat gaji saya naik bulan ini. Hehe. Yang jelas, jika Anda sedang kesal dengan pekerjaan Anda atau baru saja menerima email penolakan otomatis dari perusahaan impian, silakan putar lagu ini kencang-kencang di headphone Anda. Semoga amarah Anda tersalurkan dengan baik. Saya mau lanjut menyeduh kopi dulu. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Sukatani on Spotify
  2. Sukatani - Surat untuk HRD Single Release