Sore itu di pertengahan September 2023, saya sedang duduk di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan—lupa nama kedainya, yang jelas kopinya terlalu asam untuk lambung saya yang sudah berumur 40-an ini—ketika kawan saya, Daffa, mengirimkan sebuah tautan Spotify lewat pesan singkat. "Kang, coba dengerin album barunya Grrrl Gang. Judulnya Spunky!," tulisnya.

Jujur saja, sebelum memutar lagu pertama, saya sempat berpikir bahwa trio indie pop asal Yogyakarta yang kini hijrah ke Jakarta ini bakal menyajikan semacam eksplorasi hening. Maklum, banyak anak band yang ketika beranjak dewasa langsung berubah haluan menjadi syahdu, bermain gitar akustik, lalu bernyanyi sunyi seolah sedang bertapa di tengah hutan. Tapi begitu tombol putar saya tekan di earphone, boro-boro hening, euy. Kuping saya langsung dihajar distorsi gitar yang padat. Haha.

Kedewasaan yang Tak Harus Sunyi

Grrrl Gang—yang digawangi oleh Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar), dan Akbar Rumandung (bass)—memang tak lagi sama dengan sekumpulan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang dulu saya tonton di gig kecil daerah Sleman sekitar tahun 2018. Waktu itu, lagu-lagu mereka seperti "Bathroom" atau "Thrills" terdengar mentah, ugal-ugalan, dan vokal Angeeta sering kali tenggelam di balik bisingnya instrumen. Menyenangkan, tapi terasa seperti ledakan energi masa muda yang tak tahu mau diarahkan ke mana.

Di album penuh perdana bertajuk Spunky! yang dirilis lewat label independen asal Seattle, Killroom Records, kedewasaan itu akhirnya datang. Namun, mereka tak memilih jalan pintas dengan meredam distorsi. Di bawah kawalan produser Luthfi Kristianto, Grrrl Gang melakukan dekomposisi distorsi indie pop menjadi sesuatu yang jauh lebih rapi, presisi, dan matang.

"Kami ingin album ini terdengar lebih bertenaga namun tetap memiliki ruang untuk setiap instrumen bernapas," ujar Edo dalam sebuah wawancara yang sempat saya baca di media musik lokal beberapa waktu lalu.

Bedah Riff dan Bassline yang Presisi

Mari kita ambil contoh track pembuka sekaligus title track, "Spunky!". Lagu ini dibuka dengan bassline tebal dari Akbar yang langsung memberi fondasi kokoh. Tak ada lagi frekuensi yang saling tabrakan. Riff gitar Edo terdengar lebih bersih meskipun tetap menggunakan efek overdrive yang galak. Yang paling terasa perubahannya adalah vokal Angeeta. Ia tak lagi sekadar berteriak asal-asalan, melainkan bernyanyi dengan dinamika yang terjaga, tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang bagi instrumen lain.

Lirik-lirik di album ini pun tak lagi berkutat pada drama cinta remaja yang naif. Mereka mulai membedah tema-tema yang lebih personal dan berat, mulai dari isu kesehatan mental, kecemasan menghadapi masa depan, hingga trauma masa kecil seperti yang tersirat dalam track "Mother's Prayer". Ini adalah jenis kedewasaan yang jujur, tanpa perlu berpura-pura menjadi puitis yang rumit dan bikin dahi berkerut.

Menikmati Kebisingan di Usia Kepala Empat

Saya ini kan sudah tidak muda lagi, ya. Mendengarkan lagu-lagu bertempo cepat dengan ketukan drum yang konstan sebenarnya berisiko membuat tensi darah saya agak naik. Tapi anehnya, sebelas track di album ini tak membuat kepala saya pusing. Malah, tanpa sadar, saya ikut mengangguk-anggukkan kepala di pojokan kedai kopi, membuat mamang-mamang barista menatap saya dengan pandangan heran. Mungkin dia pikir saya sedang kurang sehat atau sedang memikirkan cicilan rumah yang tak kunjung lunas. Hehe.

Ya sudahlah. Tak usah terlalu banyak teori jurnalisme musik yang muluk-muluk untuk menilai karya ini. Grrrl Gang berhasil membuktikan bahwa untuk terlihat lebih dewasa, kita tak perlu mematikan distorsi dan berpura-pura menjadi sunyi. Saya mau lanjut meminum obat maag dulu sebelum kembali memutar album ini dari awal. Semoga lambung saya tetap bersahabat dengan kebisingan ini. Hehe.


Referensi & Sumber

  1. Grrrl Gang - Spunky! (Killroom Records)
  2. The Jakarta Post: Yogyakarta indie-pop trio Grrrl Gang releases debut album Spunky