Sabtu malam, 11 Maret 2017, saya berdiri di lantai empat Rossi Musik Fatmawati, Jakarta Selatan. Napas saya agak tersengal-sengal—maklum, menaiki tangga gedung tua itu sampai ke atas memang selalu jadi ujian fisik tersendiri bagi pria berumur seperti saya. Haha. Malam itu, band indie rock asal Jakarta, Barefood, sedang menggelar pesta rilis untuk full-length album perdana mereka yang bertajuk Milkbox. Tiket masuknya mah kalau tak salah hanya 50 ribu perak, angka yang sangat murah untuk sebuah penebusan rindu setelah bertahun-tahun mereka hanya merilis EP.
Saya datang agak terlambat karena urusan perut. Mencari sate padang yang enak di sekitaran Fatmawati ternyata butuh perjuangan tersendiri malam itu. Saat saya masuk ke dalam ruangan, Secret Meadow sedang memainkan set dream-pop mereka sebagai opening act. Ruangan ber-AC itu tentu saja tak terasa dingin sama sekali. Panas, pengap, dan aroma asap rokok bercampur keringat langsung menyergap hidung. Namun, justru di situlah letak daya tarik utama dari sebuah venue kecil. Tak ada jarak yang memisahkan penonton dan musisi yang tampil di atas panggung setinggi 30 sentimeter itu.
Dendi, seorang kawan lama yang malam itu memakai kaos hitam bergambar band Navicula, berteriak di dekat kuping saya, “Suara gitarnya Ditto agak mendem euy di sebelah kiri!” Saya hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Boro-boro memikirkan mixing yang sempurna seperti di rekaman, bisa berdiri tegak tanpa kesenggol sikut penonton lain saja sudah syukur malam itu. Di gigs kecil seperti ini, tata suara memang tak pernah benar-benar steril. Kadang vokal tenggelam oleh distorsi gitar, kadang pula suara bassline terlalu dominan hingga dada terasa bergetar. Namanya juga gigs kecil, ya wajar lah.
Anehnya, cacat-cacat audio itulah yang membuat pertunjukan terasa begitu hidup. Di panggung mini Rossi Musik, Ditto Praditya dan Rachmad Triyadi tak memakai IEM di telinga mereka. Mereka mengandalkan monitor wedges sederhana di depan kaki mereka yang sesekali mengeluarkan feedback melengking akibat todongan mikrofon yang terlalu dekat. Penonton bisa melihat dengan jelas jemari Ditto menginjak pedalboard—mungkin menyalakan overdrive atau delay—dan melihat keringat menetes dari ujung hidungnya. Keintiman visual dan audio yang mentah ini tak akan pernah bisa didapatkan di panggung festival raksasa.
Mari kita bandingkan secara kontras. Di festival besar, Anda harus berdiri puluhan meter di belakang pagar pembatas, menonton band kesayangan yang terlihat sekecil semut dari kejauhan. Anda terpaksa menikmati aksi panggung mereka lewat layar LED raksasa di kiri-kanan panggung. Suaranya memang megah, menggelegar berkat sistem line array bernilai miliaran rupiah yang diatur oleh sound engineer ternama. Namun, rasanya seperti menonton televisi di tengah kerumunan orang asing. Tak ada interaksi personal, tak ada rasa kepemilikan bersama atas ruang tersebut.
Di Rossi Musik malam itu, saat Barefood membawakan lagu "Sembilu", moshpit langsung pecah. Beberapa pemuda nekat melakukan stage dive, melompat ke arah kerumunan yang dengan senang hati menyambut tubuh mereka. Saya sendiri terpaksa mundur beberapa langkah ke dekat meja merchandise untuk menyelamatkan kacamata saya agar tak pecah terinjak. Tak ada barikade besi yang memisahkan kami. Ketika mikrofon Ditto diarahkan ke penonton, puluhan orang berebut berteriak menyanyikan liriknya. Itu adalah momen kolektif yang sangat intim, sebuah energi murni yang saling bertukar tanpa filter.
Tentu saja, setelah gigs selesai, kuping saya berdengung selama dua hari penuh. Itu adalah konsekuensi logis dari berdiri terlalu dekat dengan amplifier gitar tanpa pelindung telinga. Namun dengungan itu adalah tanda mata, sebuah pengingat bahwa saya baru saja menjadi bagian dari sesuatu yang nyata. Ya sudahlah, kaki saya sudah mulai pegal hanya karena membayangkan kembali tangga Rossi Musik malam itu. Saya mau memijat betis dulu sebelum tidur. Semoga bulan depan ada gigs kecil yang seru lagi di Jakarta agar saya punya alasan untuk keluar rumah. Hehe.
